My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Status Kesehatan Laut DKI Jakarta dan Tantangannya

 Breaking News
14 Oktober
09:09 2018
Status Kesehatan Laut DKI Jakarta dan Tantangannya

Penulis : 1Erdani A. Guntama, 2Widodo S. Pranowo, dan 1Noir P. Purba

Laut Indonesia (sebenarnya) memegang peranan yang sangat penting dalam menjaga kestabilan iklim dunia. Dengan letak geografis sebagai jalur “trap” dan penyumbang nutrien, konstelasi untuk daratan, atmosfer, dan laut itu sendiri sangat signifikan dalam menyalurkan makanan dan energi. Dalam hal ini dapat dikatakan, bahwa laut yang sehat akan memberikan dampak yang baik bagi lingkungannya.

Salah satu indikator poros maritim adalah bahwa laut dapat memberikan manfaat yang optimal bagi kehidupan manusia namun selalu terjaga kelestariannya. Salah satu hal untuk melihat kemajuan dalam poros maritim adalah kesehatan laut. Conservation International (CI) telah merilis indeks kesehatan laut negara – negara dari berbagai belahan wilayah dunia. Dalam rilis situs resmi OHI (http://www.oceanhealthindex.org/), Indonesia tercatat menempati peringkat 145 dari 221 negara di dunia dengan indeks skor 64. Ocean Health Index (OHI) atau yang biasa dikenal dengan Indeks Kesehatan Laut (IKL) sendiri merupakan kerangka penilaian terpadu yang digunakan untuk mengukur kesehatan laut dari global untuk skala lokal, sehingga laut secara berkelanjutan memberikan manfaat bagi masyarakat kini dan nanti. Aspek penilaiannya sendiri meliputi aspek biologi, fisika, kimia laut, dan sosial ekonomi pesisir. Jika dibandingkan dengan negara – negara di Asia Tenggara, Indonesia saat ini masih berada di bawah Thailand yang menempati peringkat 75, Malaysia (133) dan Myanmar (136) dengan indeks skor berturut – turut 71; 65; dan 65. Peringkat teratas pada skala global saat ini ditempati oleh negara – negara kecil yang semi berpenghuni, seperti outh georgia and south sandwich islands (1) dan Crozet Islands (2).

Indonesia sendiri mulai menerapkan OHI ini sejak tahun 2016. Dilansir dalam  buku “Menuju Terwujudnya Indeks Kesehatan Laut di Indonesia”,  Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI menyusun 3 wilayah sebagai pilot studi, yaitu diantaranya DKI Jakarta, Bali, dan Kepulauan Raja Ampat (Papua). Ketiga wilayah ini dianggap dapat merepresentasikan perairan Indoensia secara regional. Riset yang dilakukan di Bali saat ini telah menghasilkan indeks skor senilai 64, DKI Jakarta senilai 58, dan Raja Ampat masih dalam tahap pengukuran.

Riset OHI di Perairan DKI Jakarta sendiri dilakukan pada tahun ini dengan menggunakan 10 goals yang telah ditentukan oleh CI. Seluruh parameter yang diamati meliputi ekologi/biologis laut, kandungan kimia perairan seperti nutrien dan logam  berat, fisik laut (suhu, salinitas, dan lain sebagainya), dan terakhir yaitu sosial ekonomi yang meliputi nilai GRDP (Gross Regional Domestik Produk), jumlah penduduk, dan lain sebagainya. Studi ini dilakukan dengan membagi perairan Provinsi DKI Jakarta ini berdasarkan ekoregion laut yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Hasil riset menunjukan bahwa ekoregion laut 6.3.1 (Teluk Jakarta, Pulau Rambut, Pulau Untung Jawa, dan sekitarnya) senilai 56, ekoregion laut 6.3.2 (Pulau Damar, Pulau Bokor, dan Pulau Lancang) senilai 57, ekoregion laut 6.3.3 (P. Tidung, P. Payung dan gugus P. Pari) senilai 58, ekoregion laut 6.3.4 (Taman Nasional Kepulauan Seribu, Pulau Pramuka, dan sekitarnya) senilai 59, ekoregion laut 6.2.2 (Pulau Sabira) senilai 58. Ekoregion yang paling sehat diantara kelima wilayah merupakan ekoregion 6.3.4 dengan indeks sebesar 58,95 karena pada ekoregion ini terdapat Taman Nasional Kepulauan Seribu yang menyebabkan ekologi laut masih terjaga dan juga produktivitas laut lebih optimum. Meskipun aktivitas di sebagian besar pulau pada ekoregion ini sudah merusak kesehatan laut seperti pada Pulau Pramuka dan Pulau Panggang. Jika digunakan hasil perhitungan yang lebih spesifik maka ekoregion 6.3.1 memiliki indeks kesehatan laut terendah yaitu 56,4. Hal ini disebabkan pada ekoregion 6.3.1 (Teluk Jakarta) memiliki tekanan yang cukup besar dimulai dari permasalahan limbah domestik, limbah cair, industri, degradasi terumbu karang, dan kualitas perairan yang buruk diakibatkan limbah pelayaran/transportasi laut yang berpusat di Pelabuhan Kali Adem.

Untuk meningkatkan indeks skor OHI diperlukan kerjasama dari seluruh pihak pemangku kebijakan, stake holder, dan masyarakat itu sendiri. Pembagunan Nasional harus mengedepankan aspek lingkungan dalam hal ini amdal harus di kedepankan. Hal ini bertujuan agar kedepan aspek lingkungan terutama laut beserta ekosistemnya dapat terjaga kualitasnya dengan baik. Peningkatan konservasi lingkungan merupakan hal yang paling utama dalam menjaga serta meningkatkan fisiologis laut itu sendiri.

Dalam sisi sosial perekonomian, pembangunan infrastruktur laut (pelabuhan, kapal, bandara), pembukaan lapangan kerja, serta penyerapan tenaga kerja merupakan hal prioritas dalam meningkatkan indeks. Hal ini sinergis dengan semangat pembangunan Indonesia yang di kenal dengan Nawacita. Jika infrastruktur sudah baik maka akses akan semakin mudah dan cepat. Hal ini membuat pertumbuhan ekonomi secara nasional dapat merata dengan cepat. Pembagunan destinasi wisata yang mengedepankan aspek ecotourism merupakan langkah selanjutnya yang harus menjadi prioritas untuk meningkatkan devisa negara secara nasional dan membuka lapangan pekerjaan untuk penyerapan tenaga kerja masyarakat pesisir. Jika pembangunan laut secara berkelanjutan tersebut dapat terealisasi segera, maka indeks skor OHI Indonesia secara regional akan meningkat dan manfaat laut secara optimal dapat dirasakan.

1Peneliti di Marine Research Laboratory (MEAL), Universitas Padjadjaran

2Peneliti di PUSRIKEL, KKP-Jakarta

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.