My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

“Sail Indonesia” Terancam Peraturan Bangsa Sendiri?

28 Juli
00:54 2008
“Sail Indonesia” Terancam Peraturan Bangsa Sendiri?

www.sailindonesia.netRahmat Nasution – indosmarin.com

Darwin – “Sail Indonesia”, reli kapal pesiar (yacht) yang tahun ini diikuti 121 kapal pesiar dari 15 negara, merupakan promosi besar bagi potensi pariwisata bahari Indonesia karena kegiatan tahunan ini merupakan yang terbesar di kawasan Asia Tenggara. Namun peraturan baru kantor Bea cukai RI yang mewajibkan nakhoda kapal-kapal peserta menyerahkan uang deposit sebesar lima sampai 10 persen dari harga kapal sebagai jaminan tidak hanya menyulitkan tetapi kerap dipertanyakan banyak peserta.

Pernyataan ini disampaikan Ketua Panitia “Sail Indonesia” (SI) 2008 di Darwin, David Woodhouse, kepada ANTARA yang menemuinya di atas geladak kapal “Spirit of Darwin” sebelum dilangsungkan acara pelepasan (flag off) kapal-kapal peserta di perairan Teluk Fannie “Sailing Club” Darwin, Sabtu (26/07) .

Peraturan yang mewajibkan pembayaran uang jaminan pajak itu sepatutnya tidak dibebankan kepada kapal-kapal peserta SI karena mereka bergerak selama tiga bulan dan tidak kemudian menetap di Indonesia. “Peraturan ini menimbulkan masalah-masalah yang seharusnya tidak perlu terjadi. Kewajiban membayar `duty bond` ini seharusnya hanya diberlakukan kepada kapal-kapal yang masuk dan menetap di Indonesia tapi kalau mereka yang hanya tiga bulan berlayar dan keluar dari Indonesia harusnya dibebaskan dari aturan ini,” katanya.

“Masalahnya adalah sebagian besar peserta Sail Indonesia 2008 adalah orang-orang yang baru pertama kali ikut dan mereka tidak punya pengalaman tentang peraturan di Indonesia. Mereka ini adalah para pelaut yang berkeliling dunia,” kata Woodhouse.

Belum baiknya sistem teknologi informasi dan komunikasi antara petugas bea cukai yang ada di Kupang (pintu masuk jalur barat SI) dengan rekan mereka yang ada di Batam sebagai pintu keluar perairan Indonesia misalnya merupakan kendala yang dikhawatirkan banyak kapal peserta, katanya.

Jika “duty bond” itu tetap dibebankan, setiap peserta harus menyerahkan uang sebesar lima hingga 10 persen dari harga kapal yang berkisar antara 400 hingga 500 ribu dolar Amerika Serikat (AS), katanya. Hanya saja, masalah “duty bond” ini terpecahkan panitia setelah Direktur Jenderal Pengawasan dan Pengendalian Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan, Aji Sularso, mau “menjadi penjamin” kapal-kapal peserta SI, kata David Woodhouse.

“(Nakhoda) kapal-kapal peserta Sail Indonesia ini telah berjanji untuk strik pada tanggal masuk dan tanggal keluar mereka (dari Indonesia) sehingga pihak bea cukai mengetahuinya dengan baik,” katanya.

Di luar kendala yang tidak perlu ini, kerja sama pemerintah daerah yang wilayahnya masuk rute SI dengan pihak panitia di Darwin sudah berjalan dengan baik. Masyarakat setempat pun menyambut ratusan awak kapal-kapal peserta dengan penuh semangat, ramah, dan mengisinya dengan beragam acara seni-budaya, katanya (Ant.)

foto by: www.sailindonesia.net

Tags
Share

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *