My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Nelayan Cilacap Enggan Tempati Rusun

28 Juli
00:00 2008

Nalasrestha – indosmarin.com

Cilacap – Dua unit rumah susun (rusun) untuk nelayan miskin Cilacap yang sudah berdiri satu tahun lalu di kawasan Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, Kabupaten Cilacap, tak juga dihuni. Nelayan enggan menghuni rusun yang memiliki 90 ruangan itu karena tak sesuai dengan kebutuhan nelayan.

Riswanto (45), nelayan yang bermukim tepat di seberang rusun itu pun mengaku, dirinya tak tertarik pindah bermukim ke rusun tersebut meski dijanjikan biaya sewanya murah. Menurutnya, kontruksi rumah bersusun kurang ideal untuk nelayan. “Tentu akan sangat melelahkan bagi nelayan untuk tinggal di rumah susun yang bertingkat-tingkat. Setiap hari kami akan harus mengangkut jaring dan mesin kapal lewat tangga ke dalam rumah,” katanya seperti yang dilansir Antara, Minggu (27/7).

Sebagai nelayan, Riswanto mengaku, membutuhkan halaman untuk memperbaiki jaring seperti tempatnya bermukim di Dusun Bandengan, Desa Tegalkamulyan, Kecamatan Cilacap Selatan. “Kalau rumahnya tak ada halamannya, di mana kami bisa memperbaiki jaring,” ucapnya.

Fasilitas rusun yang hanya menyediakan satu kamar juga dianggap tak sesuai dengan kebutuhan keluarga nelayan yang umumnya memiliki anak lebih dari empat. “Kalau cuma ada satu kamar dan rumahnya juga sempit, anak kami mau tidur dan main di mana,” ucap Ngadiran (28), nelayan lainnya.

Menurut Ketua RT 04/RW02 Dusun Bandengan, Poniman (42), hampir setiap keluarga nelayan di Dusun Bandengan memiliki empat sampai 10 anak. “Dari segi bentuk saja, rumah susun itu memang tak sesuai dengan kebutuhan nelayan. Apalagi luas rumah yang disediakan juga sempit, sehingga tak mungkin bisa menampung keluarga nelayan yang umumnya banyak anak ini,” katanya menjelaskan.

Poniman mengatakan, sebetulnya nelayan Dusun Bandengan yang umumnya bermukim di atas lahan milik pemerintah itu lebih berminat memiliki lahan yang ditinggali sekarang ini. “Tapi kata pemerintah, lahan pemerintah itu tidak boleh diperjualbelikan sehingga kami tidak bisa memilikinya,” katanya.

Menurut Ketua II Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Cilacap, Indon Cahyono, sejak rusun itu didirikan oleh Bagian Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Cilacap pada Desember 2007 lalu, baik nelayan maupun pengurus HNSI memang tak ada yang dilibatkan. Karena itu pula sebabnya, rusun itu tak diminati nelayan. “Saya juga tidak tahu, kenapa nelayan tidak ikut dilibatkan dalam pembangunannya. Tapi yah akhirnya seperti sekarang, rusun itu malah sama sekali tidak digunakan nelayan,” lanjutnya(*)

Tags
Share

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.