My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Indonesia Butuh “Blue Print” Wisata Bahari

28 Juli
00:34 2008
Indonesia Butuh “Blue Print” Wisata Bahari

Muliarta-Indosmarin.com
Kuta –
Eksotisme dan keragaman ekosistem laut Indonesia menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan. Kondisi ini menyebabkan berkembangnya wisata bahari di wilayah Indonesia. Namun sayang pengembangan wisata bahari Indonesia tidak disertai dengan adanya blue print yang jelas.
Gabungan Pengusaha Wisata Bahari Indonesia (GAHAWISRI) merekomendasikan kepada pemerintah Indonesia untuk membuat blue print (cetak biru) pengembangan pariwisata bahari di Indonesia. Rekomendasi ini disampaikan langsung Ketua Umum Gahawisri Feisol Hasim usai Pertemuan Gahawisri di Kuta Bali pada Sabtu (26/6).
Feisol menyatakan akibat tidak adanya blue print menyebabkan pengelolaan wisata bahari tidak dapat dilakukan secara maksimal. Padahal sebagai negara kepulauan Indonesia memiliki potensi yang tinggi dalam pengembangan wisata bahari. Feisol mengatakan akibat tidak adanya blue print menyebabkan munculnya usaha-usaha wisata bahari ilegal.
Hal ini dinilai yang menjadi salah satu penyebab rusaknya kawasan karang dan ekosistem laut Indonesia. Sebab pengusaha asing ilegal tidak pernah memperhatikan aspek kelestarian ekosistem laut. Terbukti kapal-kapal phinisi dan kapal-kapal cruise milik pengusaha asing ilegal membuang jangkar kapal sembarangan sehingga merusak karang.
Feisol Hasim menyebutkan salah satu bukti dominasi wisata bahari Indonesia oleh pengusaha asing ilegal yaitu hancurnya wisata bahari di Pulau Bunaken. Dimana hampir 90 penguasahaan wisata bahari di Pulau bunaken dikuasai oleh pengusaha asing yang rata-rata merupakan usaha ilegal.
Feisol berharap pemerintah segera melakukan penertiban, sebab munculnya penguasaan oleh pengusaha asing ilegal ini akibat tidak adanya kepastian hukum di Indonesia.
“Kalau mereka mendominasi salahnya siapa?, jangan salahkan mereka, dia keluar duit kan, salahnya kita peraturan kita bagaimana, apakah peraturan budpar itu menggalakkan small cruise from local people. Apakah bank bisa membantu untuk membuat kapal ini, kalau tidak ada peraturan masa pemerintah tidak mampu keluarkan satu peraturan” tegas Feisol Hasim.
Feisol juga berharap pemerintah segera membuat blue print pariwisata bahari Indonesia, sehingga dapat diidentifikasi kawasan-kawasan wisata bahari di Indonesia untuk dapat menarik lebih banyak wisatawan. Selain itu Feisol juga berharap pemerintah segera membentuk badan pengelolaan wisata bahari untuk mengkoordinasikan pembangunan wisata bahari di Indonesia..
Hal senada disampaikan pelaku wisata bahari di Bali salah satunya Yos WK Amerta. Menurut Yos tidak hanya blue print dan badan pengelolaan yang dibutuhkan untuk mengembangkan wisata bahari di Indonesia. Pada tingkat daerah juga diperlukan adanya zonasi untuk menghindari adanya benturan kepentingan, mengingat jenis wisata bahari terus berkembang seperti diving, snorkling, surfing hingga olah raga jetski.
“Produk wisata bahari itu ragamnya juga bertambah, juga sudah dilakukan dibanyak lokasi, perlu tata ruang laut ini supaya tidak terjadi benturan” papar Yos WK Amerta
Amerta juga mengakui mulai maraknya usaha wisata bahari ilegal. Amerta menyampaikan tercatat dari 180 usaha wisata bahari yang ada di Bali 20 usaha wisata bahari diantaranya ilegal. Amerta menegaskan usaha wisata bahari ilegal tidak hanya merugikan negara tetapi akan menyebabkan rusaknya iklim investasi wisata bahari di Indonesia, karena terjadinya banting harga oleh usaha wisata bahari ilegal(*)

Tags
Share

2 Komentar

  1. wahyu irfan
    wahyu irfan Agustus 28, 13:30

    Indonesia bukan hanya butuh blueprint pariwisata bahari saja. Memang salah satu strength Indonesia yang merupakan negara kepulauan adalah memiliki pantai yang menakjubkan. tapi, bila hanya itu Indonesia belum cukup kuat untuk bersaing dengan negara lain. Ujung-ujungnya malah timbul lagi pemikiran untuk menjadikan bali-bali baru di setiap pulau yang memiliki pantai. padahal indonesia memiliki keanekaragaman yang menjadi daya tarik lebih besar. Setidaknya paling tidak Indonesia harus fokus dengan 3 jenis pariwisata. Singapura dengan pariwisata medis, belanja, dan pendidikan. Indonesia bisa dengan pariwisata bahari, budaya, dan ekowisata. tiga fokus inilah yang banyak dikunjungi wisatawan. namun karena blueprint yang berfungsi sebagai pijakan gerak belum terbentuk akhirnya fokus gerak menjadi terpecah-pecah. Indonesia butuh satu suara untuk pariwisata.

  2. AndrewBoldman
    AndrewBoldman Juni 05, 07:56

    Hi, cool post. I have been wondering about this topic,so thanks for writing.

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *