My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Greenpeace Indonesia: Usulan Penambahan Kapasistas PLTU Celukan Bawang Tidak Wajar

 Breaking News
13 Juli
12:12 2018
Greenpeace Indonesia: Usulan Penambahan Kapasistas PLTU Celukan Bawang Tidak Wajar

Bali – Usulan Gubernur Bali terkait penambahan kapasistas produksi listrik di PLTU Celukan Bawang, Bali, dinilai tidak wajar. Demikian disampaikan Hindun Mulaika, Juru Bicara Kampanye Iklim dan Energi, Greenpeace Indonesia.

“Ekspansi yang diusulkan ini sangatlah tidak wajar, terutama karena didorong oleh keputusan Gubernur Bali tanpa penilaian yang memadai, dari dampak merkuri yang dihasilkan dan polutan berbahaya lainnya. Bahkan tidak ada perhitungan jumlah emisi merkuri yang tertera dalam AMDAL proyek ekspansi tersebut.” terang Mulaika.

Sementara, saksi ahli penggugat, Profesor Ery M. Egantara seorang pakar Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) menjelaskan bahwa perhitungan dampak juga perlu dilakukan dalam prakiraan waktu jangka panjang. Akumulasi polutan berbahaya tidak akan langsung terasa pada tahun- tahun pertama beroperasinya PLTU tersebut, tetapi kalau dihitung sampai 5-10 tahun ke depan, ancamannya bisa sangat berbeda.

Persidangan yang menghadirkan saksi ahli dari pihak penggugat pada Kamis (12/7) kemarin juga telah menekankan pentingnya pemodelan emisi dengan metodologi yang tepat. Menurut Egantara, sayangnya hal ini tidak kita lihat dalam AMDAL ekspansi PLTU Celukan Bawang.

Bali adalah tujuan wisata paling populer di Indonesia, menarik jutaan pengunjung per tahun, sebagian besar dari negara-negara di kawasan seperti Cina, Singapura, Malaysia dan Australia. PLTU Celukan Bawang hanya berjarak 20 km dari Pantai Lovina, kawasan wisata populer yang terkenal dengan pantai pasir hitam, terumbu karang, dan lumba-lumba.

Emisi dari pembangkit batu bara juga akan membahayakan lingkungan Taman Nasional Bali Barat, rumah bagi satwa langka dan dilindungi termasuk macan tutul Jawa, trenggiling dan jalak Bali yang statusnya sangat terancam.

Pariwisata sangat penting bagi ekonomi lokal, mendukung sekitar satu dari setiap tiga pekerjaan di Bali. Udara yang tercemar dari pembangkit batu bara akan mengusir para wisatawan ini, membuat ribuan pekerjaan berisiko dan mengancam rencana pemerintah untuk memperluas pariwisata di Indonesia.

“Pemerintah ingin menarik lebih banyak wisatawan asing ke Bali, tetapi siapa yang akan ingin mengunjungi sebuah pulau yang udaranya tercemar oleh emisi dari batu bara,” kata Hindun Mulaika.

Lingkungan dan ekonomi Bali dikorbankan untuk kepentingan perusahaan listrik ketika listrik dari pembangkit ini bahkan tidak diperlukan.

“Dengan tidak terteranya proyek ekspansi PLTU Celukan Bawang 2×330 MW dalam RUPTL 2017 dan 2018, menandakan bahwa proyek ini tidak dibutuhkan lagi, Kami menyerukan kepada gubernur untuk melindungi Surga Bali, dan tidak membawanya ke masa depan yang kotor dan tercemar.” ujar Dewa Adnyana,  Direktur LBH Bali. (GreenPeace/ Gentry Amalo)

Tags
Share

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *