My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Greenpeace: Bali Beresiko Terkontaminasi Mercuri dan Hadapi Kematian Prematur

 Breaking News
13 Juli
04:37 2018
Greenpeace: Bali Beresiko Terkontaminasi Mercuri dan Hadapi Kematian Prematur

Denpasar – Greenpeace Indonesia, organisasi nirlaba yang berfokus pada persoalan lingkungan hidup menyatakan bahwa Bali menghadapi resiko terkontaminasi mercuri jika merealisasikan usulan perluasan pembangkit listrik bertenaga batubara di Bali Utara. Menurut Greenpeace Indonesia, kontaminasi mercuri ini dapat menyebabkan ribuan kematian dini dan membahayakan industri pariwisata yang sudah mapan.

Angka-angka baru yang dirilis Greenpeace Indonesia, berdasarkan pemodelan dari Universitas Harvard, menunjukkan dampak berbahaya bagi kesehatan masyarakat dan ekosistem di Bali dengan menambahkan dua unit pembangkit batubara baru ke pembangkit listrik tenaga batubara Celukan Bawang.

Menurut Greenpeace Indonesia, polusi udara dari pembangkit batubara telah merusak kesehatan masyarakat Bali, menyebabkan sekitar 190 kematian prematur dalam setahun. Jika pembangkit batubara diizinkan untuk menambahkan dua unit berkapasitas 330 MW, maka kematian prematur tahunan dapat meningkat hingga hampir 300. Dengan usia operasi 30 tahun yang khas, pembangkit listrik dapat menyebabkan sekitar 19.000 kematian prematur.

Dalam siaran persnya Greenpeace Indonesia menyebutkan bahaya emisi PM2.5 dan NO2 yang sangat tinggi dan cukup beresiko karena kontrol polusi di Indonesia merupakan salah satu yang terlemah dan jauh lebih lemah daripada di Cina atau Jepang.

Greenpeace Indonesia telah memasukkan laporan pemodelan emisi berbahaya dan dampak kesehatannya dalam persidangan gugatan untuk perluasan PLTU Celukan Bawang pada Kamis lalu.

“Ekspansi PLTU Celukan Bawang di Bali, salah satu destinasi wisata terpopuler dunia, dapat membahayakan 200.000 jiwa dari paparan polusi udara yang diatas ambang batas aman, dan 30.000 jiwa berpotensi terkena paparan akumulasi merkuri pada level yang tidak aman. Emisi berbahaya ini juga dapat menjadi ancaman bagi populasi lumba-lumba dan ekosistem sekitar PLTU Celukan Bawang lainnya.” terang Lauri Myllivirta, pakar polusi udara Greenpeace Indonesia.

Millivirta juga menmbahkan bahwa emisi dari pembangkit batubara juga akan membahayakan lingkungan Taman Nasional Bali Barat, rumah bagi satwa langka dan dilindungi termasuk macan tutul Jawa, trenggiling dan jalak Bali yang statusnya sangat terancam.

Seperti yang kita ketahui, Bali adalah tujuan wisata paling populer di Indonesia yang selama ini menarik jutaan pengunjung yang sebagian besar dari Cina, Singapura, Malaysia dan Australia. PLTU Celukan Bawang hanya berjarak 20 km dari Pantai Lovina, kawasan wisata populer yang terkenal dengan pantai pasir hitam, terumbu karang, dan lumba-lumba.

Pariwisata sangat penting bagi ekonomi lokal, mendukung sekitar satu dari setiap tiga pekerjaan di Bali. Udara yang tercemar dari pembangkit batu bara akan mengusir para wisatawan ini, membuat ribuan pekerjaan berisiko dan mengancam rencana pemerintah untuk memperluas pariwisata di Indonesia.(Greenpeace/Gentry Amalo)

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *