My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Wisatawan Lokal Tertarik Kunjungi Makam Keramat di Pulau Kampai

11 Januari
15:34 2012
Wisatawan Lokal Tertarik Kunjungi Makam Keramat di Pulau Kampai

Kabupaten Langkat

Langkat – Makam keramat yang ada di Pulau Kampai, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, setiap minggunya ramai dikunjungi wisatawan lokal mau pun mancanegara.

“Setiap minggunya warga selalu berkunjung ke makam keramat yang kelihatan cukup panjang itu,” kata salah seorang tokoh masyarakat Pulau Kampai, Buyung Amir di Pulau Kampai, Selasa (10/1).

Warga yang datang berasal Pangkalan Susu, Brandan, Besitang, Stabat, Binjai, Medan dan Jakarta, bahkan juga dari luar negeri seperti Malaysia.

“Sebelum masyarakat bermungkim di Pulau Kampai, makam yang cukup tua itu, sudah kelihatan ada di daerah tersebut,” kata Buyung kepada Antara.

Buyung Amir mengatakan, makam keramat yang cukup panjang tersebut, ada dua buah, yakni satu panjangnya enam meter, dan satu lagi empat meter.

Buyung mengatakan, makam keramat itu, saat ini sedang dipugar, di dalam makam tersebut juga terdapat batu-batu karang laut berusia ratusan tahun.

“Kemungkinan makam tersebut, dulunya adalah pendatang yang pertama kali menemukan Pulau Kampai ini, asal Gujarat. Dan terdampar di daerah tersebut,” katanya.

Ketika ditanya kenapa makam tersebut sekarang ini dikelambui atau ditutup dengan kain, Buyung mengatakan, karena salah seorang warga yang bermimpi, agar makam itu dikelambui.

Saat ini terlihat kelambu berukuran besar menyelimuti kedua makam keramat tersebut.

Sangat menarik lagi, setiap Kamis pagi, dari kedua makam ini mengeluarkan aroma yang sangat wangi, katanya.

Secara terpisah, salah seorang masyarakat Pulau Kampai, Hamid menjelaskan selain makam keramat panjang, disini ada juga sebuah makam “Mas Merah” yang ceritanya juga melegenda.

Konon makam Mas Merah ini, kata Hamid, adalah seorang perempuan bernama Salmah penduduk Medan Labuhan bersuamikan Salam warga Serawak, Malaysia.

Makam ini menceritakan bagaimana percintaan dan hubungan rumah tangga antara Salmah dan Salam, hingga mereka sampai ke Pulau Kampai, dan hidup berdampingan dengan masyarakat pulau, katanya.

Namun selama mereka berumah tangga, tidak dikarunia anak, sehingga suatu saat penyakit datang menyerang mereka tahun 1920, dan Salmah akhirnya meninggal dunia.

Kemudian beberapa saat kemudian, Salam juga meninggal dunia di tempat tersebut, ucap Hamid.

Karena perjalanan hidup dan percintaan mereka dianggap sangat menarik bagi masyarakat di daerah itu, sehingga lahirlah sebuah pantun.

“Sayang serawak sungainya sempit, buah rengas lambung-lambungan, hendak kubawa untungku sakit tinggallah emas, tinggallah junjungan,” kata Hamid mengutif isi pantun tersebut.(Ant)

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS