My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Wisata Sejarah Perang Dunia II di Pulau Owi, Papua

11 Desember
22:42 2008
Wisata Sejarah Perang Dunia II di Pulau Owi, Papua

Soen’an Hadi Poernomo – indosmarin.com

BiakBagi orang kebanyakan, melihat Pulau Owi saat ini tentu tidak terlalu istimewa. Sebuah pulau terpencil di kawasan Biak Timur, Papua, seluas 820 hektar dan dihuni kurang dari seribu nelayan. Fasilitas sosial yang ada hanyalah dua buah SD, Posyandu dan gereja di desa Owi dan Saredi, yang dilayani jalan sepanjang 15 kilometer.

Hanya saja, disana terdapat tiga hamparan bekas landasan pacu pesawat terbang yang tidak terurus. Namun bagi seorang Freddy Numberi, pulau yang penah dijuluki An Island of Death ini merupakan sebuah “mutiara” yang menyimpan “keajaiban”.

Pulau Owi memiliki peran yang sangat strategis dalam Perang Dunia Kedua bagi pasukan Sekutu untuk mengalahkan Jepang, di wilayah Pasifik dan Asia Tenggara. Bermodalkan nilai sejarah yang sangat besar inilah, maka tidak berlebihan apabila diimpikan Pulau Owi menjadi titik utama pariwisata di masa depan.

Apabila, keindahan alam lautnya juga sangat mempesona. Pulau karang ini dikelilingi oleh tiga Taman Laut, yakni Padaido, Pulau Rani-Mapia, dan Pulau Meos Indi. Dengan demikian Pulau Owi dianggap dapat menjadi sekaligus obyek wisata sejarah, wisata bahari, dan wisata budaya, dan menjadi salah satu penghela gerbong ekonomi mensejahterakan Papua.

Jenderal Douglas MacArthur sebagai Panglima Wilayah Pasifik Barat Daya pasukan Sekutu Amerika Serikat berpendapat, bahwa untuk melumpuhkan Jepang harus diputus nadi kekuatannya pada Pulau Luzon, Filipina. Maka markas Komando Sekutu dipindah dari Brisbane, Australia, ke Hollandia, yang kini dikenal sebagai Jayapura. Dari sini, diharapkan dengan strategi “Loncat Katak (frogleap)”, melalui Biak dan Morotai, dapat merebut Filipina.

Teknologi pesawat tempur saat itu, memerlukan titik-titik pengisian bahan bakar, diantaranya untuk merebut Biak yang diduduki oleh 11.000 tentara Jepang. Pasukan Dai Nippon tersebut bermarkas di goa-goa, yang saling berhubungan satu dengan lainnya. Untuk itu ditemukanlah sebuah pulau karang yang sangat ideal. Yakni sepi terpencil, tidak jauh dari Biak, relatif landai dengan tekstur karang keras berpasir, dan menyimpan air tawar.

Target waktu gerakan pasukan Sekutu dari Papua Nugini ke Filipina harus tuntas di akhir tahun, maka pada Mei 1944 itu pula pasukan Zeni dari Sekutu dalam tempo satu minggu menyelesaikan tiga landasan pacu pesawat tempur di Pulau Owi. Hancuran karang ditebar, lalu disiram dengan air laut, maka menjadi landasan pesawat yang cukup keras.

Dalam bukunya “Keajaiban Pulau Owi” itulah Freddy Numberi menguraikan kisah Perang Dunia Kedua terkait dengan peran sejarah Pulau Owi secara detail. Dirangkai pula dengan potensi dan impian indahnya untuk menggali “mutiara” pulau karang yang menarik tersebut menjadi destinasi wisata bagi Papua, lengkap dengan rencana strategisnya.

Wilayah Tanah Papua memiliki potensi kekayaan pariwisata yang sangat luar biasa besarnya, apabila dikelola secara professional, arif dan bijaksana, hal itu akan menghasilkan devisa yang sangat besar bagi Negara, termasuk bagi kesejahteraan masyarakat Papua, diantaranya adalah obyek wisata sejarah di Pulau Owi. Pulau Owi memang memiliki potensi besar untuk tumbuh Keajaiban Pulau Owi.

Dalam rangka pengembangan Pulau Owi sebagai salah satu obyek wisata di Wilayah Tanah Papua, bagi para pengusaha dan kalangan stakeholder yang lain dapat diberikan kemudahan-kemudahan sebagai insentif guna menunjang pembangunan pulau tersebut. Beberapa faktor yang dapat dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam memilih Pulau Owi sebagai salah satu obyek wisata berbasis sejarah dan kepariwisataan Papua pada umumnya(*)

sumber berita: http://dkp.go.id, foto: http://luluch.blog.friendster.com

Tags
Share

5 Komentar

  1. PERSEIN-AIMANDO
    PERSEIN-AIMANDO Maret 31, 11:32

    Terima kepada yang sudah ceritakan tentang sejarah ini, semoga Tuhan Allah Memberkati. Saya adalah Pemilik Hak Ulayat Padaido dan Pemilik INEKI. Dan saya adalah bagian dari Manarmakeri, maaf setelah saya baca cerita itu tapi belum ketemu nama asli Manarmakeri (Saya tau nama itu tapi RHS)

  2. kresna bayu
    kresna bayu Desember 28, 14:06

    sungguh tempat yang menarik, andaikan kami adakan tour ke sana, bagaimana caranya? ..lovely Indonesia

  3. ian
    ian Februari 17, 22:17

    owi okey, jangan lupa masih ada anak-anak negeri owi yang memantau pihak2 yang mengatasnamakan keret untuk kepentingan pribadi. hati-hati ko

  4. ian
    ian Februari 17, 22:41

    Trims buat Bapak Menteri Perhubungan Freddy Numbery, atas inisiatif bapak maka Owi dapat terekspos untuk setiap orang yang bersimpati terhadap potensi yang ada di pulau Owi. Harapan kami anak Owi semoga program pemerintah pusat jangan disalahterjemahkan oleh Pemda Biak sehingga tidak memperhatikan hakhak dasar masyarakat di Owi, karena dengan program perhubungan prov untuk sekolah penerbangan membuat masyarakat bengong karena tidak ada sosialisasi program yang transparan tetapi yang menonjol adalah siapa yang tampil untuk merekayasa informasi tentang hak-hak ulayat dari keret-keret yang ada untuk menangkan posisi dll di depan pemerintah pusat.
    saya anak MARWAYMOM setuju dengan program perhubungan untuk menyiapkan SDM masa depan tanah Papua.

  5. iar
    iar Februari 17, 22:51

    grrrrrrrrrrr

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS