My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Walhi Bali Tuntut Dibebaskannya Aktifis Aliansi Manado

12 Mei
14:05 2009
Walhi Bali Tuntut Dibebaskannya Aktifis Aliansi Manado

logo-walhiDenpasar – Tindakan pembubaran kegiatan kongres nelayan dan penangkapan aktivis WALHI oleh pihak kepolisian di Manado berbuntut protes di Bali.

Belasan aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Bali turun ke jalan mengadakan aksi di depan Mapolda Bali dan sempat terjadi ketegangan dengan aparat, Selasa (12/5).

Aksi yang dikemas dalam bentuk kreatif dengan delapan orang bertelanjang dada dan pada bagian mulut ditutup lakban hijau sebagai simbol pembungkaman dan penelanjangan terhadap hak asasi manusia, berjalan dari Lila Buana menuju Mapolda Bali.

Setibanya di depan Mapolda Bali peserta aksi berjejer tepat di depan papan nama Polda Bal mereka mulai berorasi dan membentang poster berbunyi “Bebaskan Teman Kami” dan “Hormati Kebebasan Menyampaikan Pendapat.”

Korlap Aksi, Agung Wardana dalam orasinya menjelaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk solidaritas terhadap pembubaran kegiatan kongres nelayan yang dilangsungkan paralel dengan World Ocean Conference (WOC) 2009.

Pembubaran tersebut berbuntut penangkapan dua orang aktivis WALHI yakni Berry yang merupakan Direktur WALHI Nasional dan Erwin Usman yang juga Kepala Departemen Penguatan Regional WALHI Nasional.

“Tindakan yang dilakukan pihak kepolisian di Manado menunjukkan bukti bahwa kepolisian masih belum bisa lepas dari watak militeristiknya.

Impian kita untuk memiliki polisi sipil  yang melindungi dan melayani masih merupakan pekerjaan rumah yang jauh didepan,” ungkap Agung Wardana.

Agung juga menyesalkan bahwa Indonesia yang mengklaim dirinya sebagai negara demokratis telah melakukan tindakan represif dan melanggar hak warga negara untuk berserikat, berkumpul dan menyampaikan pendapat. Hal ini bisa mengarah pada kembalinya otoritarianisme di bumi nusantara.

Sempat terjadi ketegangan antara partisipan aksi dengan pihak kepolisian yang menanyakan tentang ijin aksi tersebut dan meminta peserta aksi untuk meninggalkan Mapolda dalam waktu 5 menit.

Pihak kepolisian bersikeras bahwa untuk melakukan aksi harus meminta ijin paling lambat 3 hari sebelum aksi dilakukan. Mendenger pertanyaan tersebut, Tim Lobby, Hendi menyatakan bahwa aksi tersebut adalah sebagai bentuk spontanitas dan respon cepat.

“Mana mungkin kami mengirimkan surat ijin kepada pihak kepolisian tiga hari sebelumnya jika teman kami ditangkap baru hari kemarin? Jika kami tau akan penangkapan dan pembubaran, tidak mungkin kami mengadakan akan ada insiden Manado,” ungkap Hendi.

Saat korlap mencoba untuk membagikan dan membaca pernyataan sikap, terjadi insiden rebutan pernyataan sikap antara wartawan dengan pihak intelijen yang hadir. Hal ini menyebabkan hanya sedikit wartawan yang bisa mendapatkan pernyataan sikap yang terbatas tersebut tanpa bisa dibacakan.

Agung menambahkan, “Kami sangat menyayangkan sikap kepolisian yang sangat emosional dalam menanggapi aksi ini. Kami akan segera mengirimkan surat protes kepada Kapolri dan Komnas HAM terkait insiden yang terjadi.”(AR)

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS