My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

TNI AL Akan Membentuk Tim Investigasi Kecelakaan Kapal Selam

09 Juli
16:26 2012

KRI Cakra 401

Jakarta – Markas Besar TNI AL akan membentuk tim investigasi untuk mengetahui penyebab kecelakaan dalam latihan penyelamatan kapal selam, Sabtu (7/7) yang mengakibatkan Kolonel Laut (P) Jeffry Stanley Sanggel dan Mayor Laut (T) Eko Indang Prabowo meninggal.

“Tim investigasi ini nantinya akan bekerja dan membuat laporan mengenai dugaan penyebab kecelakaan tersebut,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksma Untung Surapati di Jakarta, Senin (9/7).

Menurut dia, tim investigasi yang mengecek penyebab kecelakaan itu terdiri atas orang-orang yang ahli dalam bidang kapal selam, baik operasional maupun teknis.

Kadispenal mengaku penyelamatan kapal selam ini baru, namun dirinya meyakinkan sumber daya manusia yang diterjunkan dalam latihan di Pantai Pasir Putih, Situbondo, Jatim, itu adalah orang-orang terbaik di bidangnya dan lolos kualifikasi. Bahkan, untuk latihan di darat dengan menggunakan simulator juga sering dilakukan.

“Evaluasi dari setiap latihan terus dilakukan termasuk dalam kecelakaan yang menyebabkan perwira TNI AL meninggal dunia. Setiap kali latihan terlepas itu aman dan tidak aman, selalu kami lakukan evaluasi agar semakin terampil, profesional dan semakin aman,” kata Untung.

Dalam latihan penyelamatan kapal selam itu, kata dia, sumber daya manusia yang diterjunkan adalah orang-orang terbaik karena tingkat resikonya sangat besar.

“Kami menggunakan orang-orang yang tak diragukan lagi kapasitasnya,” katanya.

Mabes TNI AL sendiri akan memberikan santunan terhadap keluarga kedua perwira kapal selam yang meninggal dalam tugas itu.

Sebelumnya dilaporkan, Komandan Satuan Kapal Selam Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) Kolonel Laut (P) Jeffry Stanley Sanggel dan Kepala Divisi Mesin Pendorong Pokok KRI Cakra 401 Mayor Laut (T) Eko Indang Prabowo meninggal dalam latihan penyelamatan awak kapal selam yang berlangsung di Pasir Putih, Sabtu (7/7).

Keduanya ketika itu berperan sebagai korban yang harus diselamatkan dari kapal selam yang diskenariokan tidak bisa naik ke permukaan tersebut. Meski dugaan sementara terjadi kesalahan dalam pelaksanaan simulasi ini, namun TNI AL menegaskan pelaksanaan telah dilakukan sesuai prosedur.

Insiden itu sendiri terjadi saat latihan memasuki hari kedua dimana sebelumnya simulasi penyelamatan berlangsung aman. KRI Cakra 401 yang sengaja ditenggelamkan hingga dasar perairan sedalam 21 meter diskenariokan mengalami keadaan darurat dan tidak dapat muncul ke permukaan.

Pertolongan dilakukan oleh sejumlah anggota TNI AL yang diterjunkan di antaranya satu kapal selam dan tiga kapal atas permukaan yang terdiri atas berbagai satuan seperti satuan dinas penyelamatan bawah air (dislambair), Satuan Komando Pasukan Katak (Satkopaska) dan tim kesehatan serta didukung pesawat Cassa dan helikopter BO 105, yang ketika itu tim penyelamat berhasil membawa korban melalui `conning tower` kapal selam hingga ke permukaan.

Simulasi penyelamatan di hari pertama ini berlangsung dengan durasi 15 menit. Pada hari kedua simulasi tim penyelamat yang berada di permukaan sempat merasa cemas karena evakuasi korban dalam kapal selam memakan waktu hingga 30 menit. Kecemasan itu bertambah ketika Kolonel Jeffry dan Mayor Eko yang dalam simulasi berperan sebagai korban muncul ke permukaan dengan hidung dan telinga mengeluarkan darah.(Ant)

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS