My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Terbuka Peluang Kerjasama Internasional Terkait Penyelamatan Terumbu Karang

07 Agustus
08:06 2010
Terbuka Peluang Kerjasama Internasional Terkait Penyelamatan Terumbu Karang

kerusakan terumbu karang

Ambon – Ketua Panitia Simposium tentang Terumbu Karang dan Pulau-pulau kecil Prof Jamaludin Jompa PhD mengatakan, ada lima kesimpulan yang dihasilkan dari kegiatan yang diprogramkan dalam Sail Banda 2010 di Maluku.

“Paling tidak ada lima kesimpulan yang bisa diambil,” katanya usai simposium yang berlangsung di Ambon, Kamis (/8) malam.

Kesimpulan pertama, katanya, terbukanya peluang kerjasama antara Indonesia dengan negara-negara lain dalam upaya penyelamatan terumbu karang dan pulau-pulau kecil dari ancaman pemanasan global.

“Semua materi pemakalah tersimpan dalam bentuk cakram digital (CD), di dalamnya terdapat materi yang disampaikan, nama pembicara, dan alamat e-mail yang dapat dihubungi,” katanya.

Kedua, ada beberapa topik dan isu penting tentang kelautan yang harus menjadi perhatian bersama secara nasional, diantaranya tentang pengaruh perubahan iklim terhadap ekosistem laut, terutama pemutihan karang.

“Dari simposium itu kita sadar bahwa ternyata banyak sekali terumbu karang di wilayah Indonesia yang mengalami pemutihan, dan ini masalah serius,” katanya.

Menurut Jamaludin Jompa, wilayah laut Indonesia yang mengalami pemutihan karang adalah Aceh, Mentawai, Sumatera Barat, Pantai Timur Sematera, Jawa, Sumbawa, Bali, Lombok, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Kalimantan dan Papua.

Ketiga, perlunya dikembangkan kembali isu-isu lama yang sudah dilupakan orang, antara lain kearifan lokal yang diharapkan tidak hanya menjadi objek ilmu pengetahuan tapi juga peluang solusi bagi keberagaman sosial budaya di Indonesia.

Keempat, semakin banyak ilmuan Indonesia yang tampil dalam simposium internasional tentang terumbu karang.

“Pada simposim internasional coral reef di Bali tahun 2000 yang dihadiri lebih dari 1.200 peserta, perwakilan Indonesia hanya 14 orang. Itu terjadi karena kepercayaan diri kita kurang,” kata Jamaludin Jompa.

“Saat ini jumlah pemateri ada 98 orang, dan 80 di antaranya dari Indonesia. Saya kirra ini capaian yang luar biasa,” tambahnya.

Kesimpulan kelima adalah mengubah cara pandang pemerintah selama ini bahwa simposium bukan sekedar kegiatan semata, melainkan harus dipahami masalah dan tantanganya kemudian menawarkan solusi-solusi yang strategis.

Simposium internasional tentang terumbu karang dan keselamatan pulau-pulau kecil dari dampak pemanasan global, menghadirkan pemateri dari Australia, Filipina, Amerika Serikat, Jerman, dan Indonesia.

Simposium tersebut juga melahirkan apa yang disebut sebagai “Ambon Statement”, berisi tujuh poin penting tentang upaya bersama yang perlu dilakukan negara-negara di dunia demi keselamatan lingkungan laut dan kehidupan manusia.(Ant)

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS