My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Tentang Marine Rapid Assessment Nusa Penida 2008

01 Desember
17:13 2008
Tentang Marine Rapid Assessment Nusa Penida 2008

Gentry Amalo – indosmarin.com

Denpasar – Nusa Penida merupakan gugusan tiga pulau kecil yang terletak di tenggara Pulau Bali, yaitu Nusa Penida, Lembongan, dan Ceningan. Program Marine Rapid Assessment Nusa Penida merupakan suatu kajian cepat mengenai kondisi keanekaragaman hayati ekosistem pesisir dan laut di Nusa Penida.

Potensi bahari Nusa Penida tak diragukan lagi. Pantai yang indah dan ombak yang menantang untuk para peselancar. Ikan Oceanic sunfish atau yang kerap disebut dengan istilah Mola mola merupakan spesies ikan yang banyak mendapat perhatian para wisatawan selam karena tingkah lakunya yang unik.

Seperti halnya Bali, Nusa Penida juga merupakan bagian dari segitiga karang dunia atau yang kerap disebut coral triangle yang menjadi pusat keanekaragaman hayati karang. Terumbu karang yang sehat tentu akan berdampak pula pada keanekaragaman spesies ikan di Nusa Penida.

Menilik potensi yang luar biasa tersebut, Conservation International Indonesia (CII) berinisiatif untuk mengundang Emre Turak dan Lyndon Devantier (ahli karang dunia) serta Gerald Allen (ahli ikan karang dunia) untuk datang dan melakukan inventarisasi keanekaragaman karang dan ikan di Nusa Penida.

“Ini bukan kali pertama CII mengajak peneliti asing dalam programnya, sebelumnya kami pernah mengajak mereka untuk melakukan Marine Rapid Assessment Program di Papua dan berhasil mendata keanekaragaman karang dan ikan disana.

Beberapa spesies ikan baru juga berhasil kami temukan”, kata Ketut Sarjana Putra, Direktur Program Kelautan CI Indonesia.

Marine Rapid Assessment Program disingkat MRAP merupakan suatu kajian cepat mengenai kondisi keanekaragaman hayati ekosistem pesisir dan laut. MRAP akan menghasilkan data keanekaragaman hayati yang terkandung di kawasan perairan Nusa Penida, sebagai salah satu acuan dalam merencanakan pengelolaan kawasan khususnya dalam menentukan pemintakatan (zonasi) untuk fungsi perlindungan dan pemanfaatan secara berkelanjutan sumber daya kelautan yang ada.

Pada umumnya kajian kelautan dilakukan pada ekosistem pesisir yang meliputi ekosistem mangrove, lamun dan terumbu karang. Kajian ini penting untuk dilakukan guna menginventarisasi kekayaan hayati yang tersimpan di bawah laut kita.

Pelaksanaan Nusa Penida Marine RAP difokuskan pada penilaian keanekaragaman hayati karang dan biomassa ikan yang diperkuat dengan data oseanografi. Sebanyak 20 titik pengamatan telah ditentukan berdasarkan pertimbangan ilmiah. Nusa Penida Marine Rapid Assessment ini akan dilengkapi dengan pengambilan data sosial ekonomi masyarakat di Kepulauan Nusa Penida. Kombinasi ketiga informasi ini dapat menjadi rekomendasi yang akurat dalam menyusun rencana pengelolaan wilayah berbasis ekosistem.

Adapun Program Marine Rapid Assessment Nusa Penida terlaksana berkat kolaborasi CI-Indonesia, The Nature Conservacy, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kementrian Negara Riset dan Teknologi, serta Balai Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan.

Selain itu juga dibantu oleh Balai Konservasi Laut Daerah, Southeast Asia Center for Ocean Research and Monitoring (SEACORM), Pemerintah Propinsi Bali, Pemerintah Kabupaten Klungkung, Yayasan Bahtera Nusantara, Universitas Udayana, dan Universitas Warmadewa.

Dalam penelitian yang berlangsung selama sepuluh hari dan berhasil menemukan 5 spesies baru serta 4 spesies yang masih dalam penelitian di laboratorium untuk memastikan apakah keempat spesies ini juga merupakan spesies baru atau bukan.

Berikut nama-nama para peneliti yang terlibat:

Concervation International (CI) Indonesia:

1. Gerald Allen (Ahli Ikan)

2. Emre Turak (Ahli Karang)

3. Ketut Sarjana Putra

4. Mark Erdmann

5. Laure Katz

6. Iwan Dewantama

7. Wida Sulistyaningrum

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

1. Prof. Dr. Suharsono

2. Ucu Yanuarbi

3. Indra Bayu Vimono

4. Sekar Mira

The Nature Concervation (TNC)

1. Jo Wilson

2. Stephanus Mandagi

3. Marthen Welly

4. Anton Wijanarno

Southeast Asia Center for Ocean Research and Monitoring (SEARCOM)

1. Afandi Asry

2. Bayu Priyono

3. Candhika Yusuf

4. Elvan Ampou

Yayasan Bahtera Nusantara

1. Sanjaya

Universitas Udayana

1. Deny Yusup

Universitas Warmadewa

1. Gede Sudiarta

Yayasan Bahtera Nusantara

2. Sanjaya

Bali Diving Academy

1. Sven Fautz

2. Kadek Moyo

Non-Lembaga/ Perseorangan

1. Dharma Aryawan – relawan

2. Riyan Niagara – relawan

3. Mariliana – kamera bawah air

Tags
Share

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS