My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Tambang Emas di Pulau Romang Ditutup Sementara

 Breaking News
16 Februari
16:43 2017
Tambang Emas di Pulau Romang Ditutup Sementara

Ambon – Gubernur Maluku, Said Assagaff, menegaskan telah mengeluarkan surat keputusan untuk menutup sementara seluruh aktivitas penambangan yang dilakukan PT Gemala Borneo Utama (GBU) di Pulau Romang, Kabupaten Maluku Barat daya (MBD).

“Saya sudah menandatangani surat keputusan penutupan sementara dan diserahkan langsung kepada Bupati MBD, Barnabas Orno, tadi siang. Bupati saat ini sedang dalam penerbangan kembali ke Tiakur, ibu kota MBD dengan membawa surat keputusan tersebut,” kata Gubernur Said, saat dikonfirmasi AntaraNews, di Ambon, Kamis.

Assagaff mengemukakan, sejak rapat terakhir bersama Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) dan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon dalam sebulan terakhir, dirinya sudah berkeinginan menutup aktivitas pertambangan emas di Pulau Romang. Tetapi, ia mempertimbangkan ketentuan undang-undang (UU) yang berlaku bahwa penutupan aktivitas pertambangan harus berdasarkan rekomendasi inspektur pertambangan.

Oleh karena itu Assegaf telah menugaskan Kepala Dinas Energi Sumber daya Mineral (ESDM) Maluku, Martha Nanlohy untuk segera menerjunkan inspektur tambang guna melakukan kajian dan penelitian di Pulau Romang, serta hasilnya harus segera diserahkan dalam bentuk rekomendasi.

“Inspektur tambangnya seharusnya sudah berangkat ke Pulau Romang, tetapi karena cuaca yang kurang bersahabat dalam beberapa pekan terakhir, maka rencana keberangkatan tertunda,” ujarnya.

Gubernur Maluku juga mengakui telah menerima laporan tim peneliti Unpatti yang ditugasi untuk melakukan penelitian dan kajian ilmiah di Pulau Romang, di mana sampel material yang diambil dari sana sudah diperiksakan ke laboratorium Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Sulawesi Selatan.

“Laporan tim Unpatti sudah mulai ada kegiatan eksploitasi tambang emas di Pulau Romang, termasuk indikasi kerusakan lingkungan, sehingga keputusannya ditutup sementara guna mengantisipasi hal-hal tidak diinginkan,” katanya.

Selain itu, dikemukakannya, berdasarkan hasil uji laboratorium Unhas Makassar terhadap sampel tanah yang dibawa oleh tim Unpatti dari Pulau Romang, ternyata dalam satu ton material mengandung 0,8 gram emas.

Assageff juga menegaskan, masalah pertambangan emas di Pulau Romang telah dibicarakan dengan Menteri Lingkungan Hidup & Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya yang berkunjung ke Ambon bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat perayaan Hari Pers Nasional (HPN) pada 9 Februari 2017.

“Menteri mengarahkan untuk ditutup karena Undang Undang tentang Lingkungan menjamin, dan tidak perlu menunggu rekomendasi dari inspektur tambang, tetapi saya juga mempeertimbangkan aturan lain yang berlaku dalam bidang pertambangan, sehingga hanya menutup sementara sambil menunggu hasil penelitian inspektur tambang,” ujarnya.

Menanggapi kemungkinan PT GBU yang telah melakukan kegiatan eksplorasi sejak 2006 menempuh jalur hukum terhadap keputusan penutupan sementara aktivitas penambangan di Pulau Romang, Gubernur Maluku menyilakan untuk memprosesnya.

“Silakan saja, jika perusahaan menempuh langkah hukum. Tetapi, jika terjadi kerusakan lingkungan di Pulau Romang, maka siapa yang akan bertanggung jawab?,” katanya. (Antara)

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS