My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Sepenggal Kisah Perdagangan Nusantara (3)

01 Mei
05:17 2008

Oleh: Rochtri Agung Bawono*

Besarnya arus perdagangan dan kondisi lingkungan di tambah dengan dinamika perkembangan politik menyebabkan banyak kapal-kapal dagang tersebut yang tenggelam di tepi pantai atau tengah samudra. Tenggelamnya kapal tersebut disebabkan karena adanya unsur kesengajaan dan unsur ketidaksengajaan. Unsur kesengajaan disebabkan adanya penyerangan kapal dagang yang tidak mau bersandar atau membayar pajak pelayaran atau upeti di wilayah kerajaan yang dilalui.

Sebagai contohnya adalah kapal-kapal Cina yang melalui Kerajaan Melayu, Aceh, dan Sriwijaya. Penyerangan atas kapal-kapal ini kerap dilakukan bajak laut Cina di Selat Malaka terutama semenjak runtuhnya Kerajaan Sriwijaya dan pudarnya pelabuhan-pelabuhan dagangnya. Penyerangan kerajaan-kerajaan lokal dalam usaha merebut benteng dan pelabuhan-pelabuhan besar seperti Batavia, Malaka, Maluku, dan Ternate-Tidore yang dikuasai bangsa Belanda, Portugis, dan Spanyol. Unsur ketidaksengajaan disebabkan faktor cuaca buruk seperti badai laut, terhantam karang penghalang atau bocornya kapal muatan.

Menurut Djoko Pramono dalam bukunya yang berjudul “Budaya Bahari” disebutkan bahwa data kapal tenggelam dengan muatan barang dagangan sudah dapat terdeteksi di sebagian wilayah Indonesia. Temuan-temuan tersebut antara lain di perairan Pulau Ambon, perairan Pulau Bali, Selat Bangka dan Gaspar, perairan Laut Jawa, perairan Halmahera, Kepulauan Riau, Selat Sunda dan perairan Selat Malaka

Kapal tenggelam ini memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi baik pada saat kapal tersebut sedang beroperasi yaitu dengan muatan barang dagangan antar bangsa dengan mutu terbaik dan setelah kapal tersebut sudah menjadi bangkai kapal yang tenggelam di lautan jika memuat barang dagangan yang yang memiliki nilai jual yang tinggi di jaman sekarang, misalnya emas, perak atau keramik.

Pada akhirnya, perdagangan nusantara dengan bangsa-bangsa asing meninggalkan suatu bukti kejayaan perdagangan maritim di Indonesia dengan adanya temuan muatan kapal tenggelam yang memiliki nilai ekonomi yang sangat besar. Kondisi ini memaksa pemerintah tentang perlu adanya perlindungan dan penanganan yang sangat ketat di lokasi yang telah diketemukan, sehingga tidak terjadi lagi aksi pencurian harta karun di bawah air.

Sementara ini perkiraan lokasi penemuan kapal tenggelam meliputi:

1. Wilayah sekitar pelabuhan laut. Daerah ini rawan karena sering terjadi tabrakan kapal dan banyaknya kapal yang tidak terkendali. Contoh: Banten, Cirebon, Tegal dan Batavia.

2. Wilayah dengan arus kencang dan memutar sehingga kapal sulit dikendalikan sebagai contoh adalah Selat Makasar dan Pelabuhan Cilacap.

3. Wilayah terumbu karang penghancur yang tidak terlihat mengakibatkan kapal mudah terdampar dan karam. Contoh di Kepulauan Seribu dan Kepulauan Riau.

4. Wilayah dengan bajak laut yang ganas. Sebagai contoh adalah Selat Malaka yang keberadaannya ada semenjak kemunduran Kerajaan Sriwijaya dan pudarnya pelabuhan sebagai pusat perdagangan.

5. Wilayah peperangan laut. Contoh: Teluk Ambon, utara Jepara, utara Batavia (Jakarta) dan utara Tuban.

*staff pengajar Arkeologi Maritim Univ. Udayana-Bali

Share

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS