My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Sepenggal Kisah Perdagangan Nusantara (1)

01 Mei
03:32 2008

Oleh: Rochtri Agung Bawono*

Perdagangan merupakan transaksi jual beli barang yang dilakukan antara penjual dan pembeli di suatu tempat. Transaksi perdagangan dapat timbul jika terjadi pertemuan antara penawaran dan permintaan terhadap barang yang dikehendaki. Perdagangan sering dikaitkan dengan berlangsungnya transaksi yang terjadi sebagai akibat munculnya problem kelangkaan barang. Menurut Titi Surti Nastiti, perdagangan merupakan kegiatan spesifik, karena di dalamnya melibatkan rangkaian kegiatan produksi dan distribusi barang

Sejarah perdagangan di Indonesia sudah dimulai dari jaman pra-sejarah. Ini dibuktikan dengan ditemukannya nekara, manik-manik dan alat-alat logam lainnya yang menyebar dari Sabang hingga Merauke. Perdagangan ini terjadi karena adanya permintaan dari penduduk pribumi terhadap barang tersebut khususnya. Permintaan ini datang dari orang-orang yang dianggap terpandang atau mampu. Atau diperoleh karena adanya sistem persembahan yang biasa disebut dengan sistem resiprokal atau emperion. Sebagai contoh adalah manik-manik kaca Indo-Pasifik yang menyebar di seluruh kawasan Indonesia hingga Pasifik merupakan bukti nyata terjadinya perdagangan antar bangsa dan lebih meningkat berkat adanya hubungan maritim yang dilakukan dengan menggunakan kano atau perahu sejenisnya.

Berdasarkan bukti-bukti yang ada, perdagangan antar bangsa semakin meningkat ketika memasuki awal masehi, karena sudah ditemukan pemukiman dan pelabuhan di daerah pesisir sehingga memudahkan dalam pendistribusian barang-barang yang diinginkan. Penemuan gerabah Arikamedu dari India di Situs Pacung – Bali Utara, merupakan bukti kuat adanya perdagangan antar bangsa yang melibatkan saudagar asing di beberapa wilayah di Indonesia pada awal masehi.

Karena terletak pada jalur persilangan lalu lintas perdagangan dunia membuat lokasi kepulauan nusantara menjadi sangat stategis. Dengan posisi ini semakin membuat padat jalur perdagangan maritim di kawasan Asia Tenggara. Kondisi ini kemudian memunculkan kerajaan-kerajaan besar dengan pelabuhan laut yang besar pula. Sebut saja Kerajaan Sriwijaya, Samudra Pasai, Melayu, Singasari, Majapahit, Mataram, Gowa-Tallo hingga Demak Bintoro memiliki pelabuhan yang ramai dikunjungi pedagang-pedagang asing dan nusantara. (bersambung)

*staff pengajar Arkeologi Maritim Univ. Udayana-Bali

Share

1 Komentar

  1. Rudi
    Rudi Februari 18, 16:46

    I hope the continus from this article

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS