My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Sangkot: Gambaran Wallace Tentang Indonesia Masih Relevan

16 April
18:44 2010
Sangkot: Gambaran Wallace Tentang Indonesia Masih Relevan

Jakarta – Gambaran kondisi geografis, alam dan makhluk hidup tentang Indonesia dari naturalis legendaris asal Inggris Alfred Wallace masih relevan dengan kondisi saat ini.

Hal tersebut dinyatakan Ketua Yayasan Wallace Profesor Sangkot Marzuki dalam bedah buku Alfred Russel Wallace berjudul “Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam”, di Wisma ANTARA, Jakarta, Jumat (16/4).

“Wallace membagi Indonesia menjadi empat kelompok. Pembagian tersebut 140 tahun yang lalu masih tepat sampai dengan sekarang,” kata Sangkot.

Prof Sangkot Marzuki yang juga Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) membedah buku Wallace tersebut bersama dengan Anggota AIPI, Prof Edy Sedyawati, yang juga Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

Sangkot menjelaskan Wallace membagi Indonesia menjadi empat bagian yaitu kelompok Indo Melayu, Kelompok Timor, Kelompok Celebes dan Kelompok Maluku.

Kelompok Melayu meliputi Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Bali; sedangkan Kelompok Celebes meliputi Sulawesi.

Kelompok Timor meliputi Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, sedangkan Kelompok Maluku terdiri dari Maluku dan Papua.

Wallace juga mengungkapkan teorinya bahwa ada satu garis maya yang memisahkan Indonesia bagian timur dan bagian barat karena berbedanya flora dan fauna karena mengikuti perubahan permukaan bumi di masa lampau.

Naturalis dan ahli biologi tersebut juga menemukan nama-nama flora dan fauna nusantara lengkap dengan kedudukan spesies dan nama ilmiah dalam taksonomi.

Wallace juga memperhatikan karakter fisik dan mental manusia, serta mengamati suku-suku di kepulauan nusantara, khususnya dua suku besar yaitu Melayu dan Papua.

Catatan perjalanan dan pengamatan Wallace dituangkan dalam buku yang diterbitkan pertama kali pada 1869, berjudul “The Malay Archipelago”.

Dan 140 tahun kemudian, Komunitas Bambu menerjemahkan dan menerbitkan buku tersebut menjadi berjudul “Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam”.

Sedangkan Prof Edy Sedyawati mengatakan pemberian judul “Kepulauan Nusantara” dari buku Wallacea yang berjudul “The Malay Archipelago” adalah solusi yang tepat, karena bakal aneh kalau diberi nama “Kepulauan Melayu”.

Pada buku tersebut, lanjut Edy, Wallace menyertakan daftar kosakata dari 59 lokalitas/ suku bangsa.

Komunitas Bambu menerbitkan terjemahan Indonesia dari buku edisi kedua Wallace dengan 482 halaman termasuk indeks.(Ant)

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS