My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Polisi dan GAHAWISRI Bali Didesak Selidiki Tewasnya Made Suyasa

30 Juni
15:16 2008

Bintang Gerilja – indosmarin.com

Amlapura – Buntut dari tewasnya Made Suyasa saat berlatih menyelam di Pantai Jemeluk – Karangasem (21/06) lalu kembali disoroti sejumlah pelaku wisata bahari. Polisi dan GAHAWISRI pun dituntut menyelesaikan kasus kecelakaan laut ini dengan baik. Persoalannya, selama ini setiap ada kecelakaan air yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa, tidak pernah sampai ke tingkat penyidikan petugas. Bahkan terkesan polisi enggan melakukan penyelidikan atas setiap kasus kecelakaan air yang ada.

Menurut Agus (bukan nama sebenarnya), salah satu pelaku wisata bahari di Sanur, “Kasus kecelakaan laut yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa, tidak pernah tersentuh hukum, bahkan GAHAWISRI juga enggan melakukan penyelidikan dan pemberian sangsi terhadap operator penyelaman yang tidak memenuhi kualifikasi standar.”

Agus menambahkan bahwa kasus kecelakaan saat penyelaman yang menewaskan Made Suyasa, bisa jadi disebabkan tidak diperolehnya informasi yang cukup, baik dari pemandu selam dan lebih parahnya lagi tidak sedikit pemandu selam yang tidak mengenal lokasi penyelaman dengan baik.

Menurut Agus, selama ini GAHAWISRI terkesan enggan melapor kepada polisi jika ada kasus kecelakaan air, sementara disisi lain polisi juga terkesan enggan pro-aktif menangani setiap kasus kecelakaan air ada.

Agus mencontohkan saat terjadinya kecelakaan di Blue Corner – Nusa Lembongan 2006 silam, yang menewaskan dua orang wisatawan asal Czechoslovakia. Menurut Agus hingga saat ini operator wisata bahari tersebut masih tetap terus menjalankan aktifitasnya, tanpa pernah mendapatkan pemeriksaan Polisi maupun pembekuan sementara dari GAHAWISRI hingga kasus tersebut tuntas secara hukum.

Padahal GAHAWISRI punya hak untuk mencabut ijin dive operator yang tidak mengikuti aturan. Agus menambahkan bahwa di Bali, tidak sedikit operator selam gelap alias tidak terdaftar dan memenuhi kualifikasi standar yang sudah ditetapkan. Kendati demikian GAHAWISRI seolah menutup mata atas keberadaan operator selam gelap tersebut.

Di Indonesia sendiri, belum ada standarisasi regulasi usaha kegiatan penyelaman. Agus mencontohkan jika di Australia standarisasi yang dimaksud sudah ada, sehingga setiap pebisnis yang akan membuka usaha sebagai operator selam, wajib mengikuti aturan yang telah ada tersebut(*)

Tags
Share

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS