My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Pertamina Bantu Rehabilitasi Hutan Mangrove Sumut

24 Januari
15:00 2009
Pertamina Bantu Rehabilitasi Hutan Mangrove Sumut

Medan – Pertamina Region I  Medan, Sumatera Utara, berpartisipasi membantu merehabilitasi kerusakan hutan mangrove di pantai timur Sumatera dan sudah menghijaukan kembali sekitar 70 persen dari 170 hektar hutan mangrove yang menjadi sasaran.

“Pertamina memberikan dan bahkan langsung menanam mangrove (bakau) di kawasan Belawan. Kegiatan itu sebagai wujud keperdulian perusahaan terhadap lingkungan dan sekaligus ikut mensukseskan Gerakan Penanaman Sejuta Pohon yang dicanangkan pemerintah,” kata Asisten Customer Relation PT Pertamina (Persero) – Pemasaran BBM Retail Region I, Rustam Aji, di Medan, Sabtu (24/1)

Menurut dia, pada bulan ini, Pertamina memberikan dan sudah ikut menanam 2.000 pohon masing-masing seribu pohon di Medan dan seribu pohon lainnya di Pekanbaru, Riau.

Seperti yang diberitakan Antara, di Medan, penanaman mangrove, mahoni, asam, dan mangga dilakukan di Kelurahan Pekan Labuhan, Nelayan Indah, Bagan Deli, Bahari, di Kecamatan Medan Belawan dan termasuk di kawasan lingkungan Pertamina yakni di Instalasi Medan Grup.

“Penanaman mangrove memiliki banyak manfaat, seperti perlindungan pantai dari abrasi dan ombak. Pertamina berharap penanaman mangrove itu ikut membantu pemerintah Provinsi Sumut yang juga sedang menjalankan program pemulihan hutan mangrove di pantai timur,” kata Rustam.

Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Sumut, Syamsul Arifin, mengakui, Pemerintah Provinsi Sumut akan memperbaiki kerusakan ekositem hutan mangrove di kawasan pantai timur yang sudah mencapai 60 hingga 70 persen dari total areal seluas 170 ribu hektare.

Perbaikan ekosistem itu sedang dalam pengkajian untuk segera dilakukan dan akan melibatkan sembilan kota dan kabupaten yang berada di kawasan pantai timur.

Kajian yang dilakukan meliputi waktu yang diperlukan untuk memperbaiki hutan mangrove itu, bagaimana keterlibatan dan tanggung jawab masing-masing pemkot dan pemkab serta upaya jangka pendek dan jangka panjang termasuk mempertahankan kelestariannya.

“Bapedalda Sumut memperhitungkan kerusakan hutan mangrove tersebut paling cepat bisa diatasi dalam masa 10 tahun jika diperbaiki secara serius oleh semua kalangan yang terlibat, termasuk dengan dukungan dan partisipasi masyaraka,” katanya. Kerusakan hutan mangrove yang sudah terjadi sejak tahun 1990-an itu memang harus segera diatasi guna menghindari bencana alam.

Pemprov Sumut sendiri sudah melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki hutan mangrove itu, antara lain dengan menjadikan bekas-bekas tambak udang yang ada di sekitar pantai sebagai areal pengembangan tanaman rumput laut yang sekaligus bisa dijadikan kolam ikan bandeng.

Di daerah Siotong, Langkat, misalnya, kata dia, sebuah koperasi atau perusahaan binaan Bapedalda Sumut sudah mengolah sekitar enam hektare eks tambak udang dengan menanami rumput laut yang hasilnya diekspor. Selain bisa memperbaiki eksosistem hutan mangrove, warga dan pemkab di daerah itu mendapatkan untung dari bisnis rumput laut dan ikan (Ant.)

Tags
Share

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS