My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Perdagangan Telur Penyu Ilegal Masih Terus Terjadi di Ketapang

08 April
22:35 2011
Perdagangan Telur Penyu Ilegal Masih Terus Terjadi di Ketapang

Telur Penyu

Pontianak – Perdagangan telur penyu di Kabupaten Ketapang masih marak meski telah dilarang berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Menurut Amalia (29), warga Ketapang, Jumat (8/4), tempat penjualan telur satwa yang dilindungi itu diantaranya di Pasar Rangge Sentap dan Payak Kumang.

Amalia menambahkan, rata-rata telur penyu dijual dengan harga Rp2 ribu per butirnya.

“Sepertinya permintaan masyarakat cukup banyak sehingga pedagang kembali berjualan,” ungkapnya.

Informasi yang dihimpun, telur penyu itu didapat pedagang dari pengumpul di daerah pesisir Kabupaten Ketapang.

Pedagang menjual dengan harga Rp2 ribu per butir. Terkadang, untuk enam butir telur penyu dijual dengan harga Rp10 ribu.

Mereka dapat memperoleh keuntungan hingga Rp200 ribu untuk 500 butir telur yang terjual.

Kepala Seksi Pendayagunaan dan Pelestarian pada Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Regional Kalimantan Kris Handoko mengatakan, instansi terkait perlu mengambil langkah tegas dan cepat guna menekan perdagangan ilegal telur penyu di Kalimantan Barat.

“Dibandingkan Kaltim, lokasi perdagangan telur penyu di Kalbar lebih banyak dan tersebar. Jumlah telur yang diperdagangkan juga diprediksi jauh lebih banyak,” terang Kris Handoko.

Menurutnya, telur penyu yang diperdagangkan di Kalbar juga berasal dari wilayah sekitar seperti Riau dan Kepulauan Riau.

Berdasarkan data WWF perdagangan telur penyu terdapat di 25 lokasi yang tersebar di lima kabupaten/kota yang ada di Kalbar.

Jumlah lokasi terbanyak ada di Kota Pontianak yakni 10 lokasi, diikuti oleh Kabupaten Sambas, 6 lokasi, Kota Singkawang 4 lokasi, Kabupaten Bengkayang 3 lokasi dan Kabupaten Pontianak.(Ant)

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS