My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Penurunan Harga Solar Tak Sesuai Harapan Nelayan

18 Desember
21:26 2008
Penurunan Harga Solar Tak Sesuai Harapan Nelayan

Jingga Fajar – indosmarin.com

Cilacap – Penurunan harga bahan bakar (BBM) jenis solar dari Rp 5.500 menjadi Rp 4.800 per liter belum sesuai dengan harapan nelayan. “Penurunan harga solar sebesar Rp 700/liter, belum sesuai dengan harapan kita. Meski demikian, kita bersyukur dengan adanya penurunan harga tersebut,” kata Ketua II Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Cilacap, Indon Cahyono, di Cilacap, Kamis (18/12).

Ia mengatakan, harga solar yang diharapkan nelayan yakni pada kisaran Rp.4.000/liter. Menurut dia, harga tersebut diperoleh berdasarkan asumsi harga minyak dunia yang berada pada kisaran 42-44 dolar AS per barel.

“Satu barel sama dengan 19 liter, berarti harga minyak dunia sekitar 0,26 dolar AS per liter atau sekitar Rp2.800/liter,” katanya seperti yang diberitakan ANTARA

Jika biaya produksi diasumsikan sebesar Rp 1.000 per liter, kata dia, harga solar dapat berada pada kisaran Rp 3.800-Rp 4.000/liter. Dengan demikian, lanjutnya, harga solar dapat sesuai dengan harapan nelayan yakni sebesar Rp 4.000/liter.

Ia mengatakan, jika ternyata harga minyak dunia kembali melonjak hingga 95 dolar AS seperti asumsi APBN, nelayan berharap harga solar tidak melebihi Rp 6.000/liter. “Jika harga minyak dunia naik lagi, kita berharap patokan tertinggi harga solar sebesar Rp6.000/liter,” katanya.

Disinggung mengenai ketersediaan solar bagi nelayan Cilacap, dia mengatakan, hal tersebut dapat diperoleh melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan yang dikelola Koperasi Unit Desa Mino Saroyo. Namun saat ini, kata dia, nelayan sulit memperoleh solar lantaran pasokan ke SPBBN berkurang, hanya 23 ton per hari. Padahal kebutuhan nelayan dalam sehari lebih dari 23 ton.

Dia mencontohkan kebutuhan satu kapal “long line” yang membutuhkan sekitar 20 ton solar sekali jalan. Padahal di Cilacap ada sekitar 140 unit kapal “long line”.

Selain itu, kapal-kapal jenis “compreng” yang mencapai 240 unit, masing-masing membutuhkan sekitar 1.500 liter untuk sekali melaut.

“Saat ini nelayan tidak mungkin mencampur solar dengan minyak tanah karena bahan bakar tersebut (minyak tanah, red.) juga sulit didapat. Untuk itu kita berharap, pasokan solar untuk nelayan ditambah,” kata Indon Cahyono.(Ant.)

Tags
Share

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS