My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Pengamat: Modernisasi Kikis Budaya Lokal Tentang Kemaritiman

03 Juli
19:54 2009
Pengamat: Modernisasi Kikis Budaya Lokal Tentang Kemaritiman

nelayanmelautJakarta – Pengamat kelautan dan lingkungan hidup Universitas Hasanuddin, Makasar, Jamaluddin Jompa mengatakan, praktek modernisasi telah mengikis budaya lokal tentang pengetahuan kemaritiman dan kelautan.

“Budaya konsumtif telah membuat anak-anak muda, terutama nelayan, menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhan materi saja,” ungkap Jamaluddin dalam diskusi mengenai kelautan di Jakarta, Jumat (3/7).

Menurut Jamaluddin, banyak nelayan sekarang yang menggunakan jalan pintas seperti penggunaan bom untuk menangkap ikan, yang justru menjadi penyebab kerusakan lingkungan laut.

Menurut Jamaluddin perilaku ini dikarenakan masyarakat yang tinggal di pesisir maupun di pulau-pulau kecil secara mudah dapat memperoleh informasi dari televisi.

“Mereka menerima begitu saja informasi mengenai pakaian, mode dan gaya hidup di kota besar, dan mereka menggunakan hal tersebut sebagai acuan untuk meningkatkan sumber penghasilan mereka,” kata dia.

Jamaluddin menambahkan, sekarang ini parabola sebagai penangkap siaran televisi sudah banyak dimiliki warga di pesisir dan pulau-pulau terpencil.

“Siaran-siaran televisi banyak menawarkan materi yang mengacu pada kehidupan moderen di kota terutama di pulau Jawa,” imbuhnya. Hal tersebut mau tidak mau telah membuat anak-anak muda tidak lagi menghargai budaya lokal dan menjaga keseimbangan ekosistem kelautan.

Sementara itu, peneliti antropologi mengenai praktek penangkapan ikan secara destruktif, Muhammad Chozin, mengatakan, sudah terbentuk jaringan “mafia” dalam kehidupan nelayan tradisional.

Dalam penelitiaannya, Chozin mengungkap kehidupan “mafia” nelayan pengebom ikan, mulai dari sistem sosial, ekonomi, budaya, dan bahkan jaringan pengiriman alat-alat bomnya. Chozin juga mengatakan bahwa bom yang digunakan para nelayan berasal dari luar Indonesia seperti India, Malaysia, dan Bangladesh.(Ant)

1 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS