My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Pengamat: Ekonomi Kelautan Perlu Jadi Fokus Ekspor

10 Agustus
22:47 2012

Kapal Nelayan (ilustrasi)

Jakarta – Pemerintah serta pelaku usaha diharapkan dapat mengatasi masalah investasi ke sektor industri, dan peluang investasi asing yang perlu dimanfaatkan adalah di luar telekomunikasi dan transportasi, yaitu ekonomi kelautan.

“Ekonomi kelautan perlu menjadi fokus karena potensi daerah di Tanah Air yang berlimpah dan masih belum digarap dengan baik, misalnya dari hasil kekayaan lautnya.

Pemerintah beserta pelaku usaha harus mengubah strategi ekspor dan tidak didominasi ekspor bahan mentah,” kata pengamat ekonomi Universitas Indonesia Firmanzah di Jakarta, Jumat.

Pengalaman sejumlah negara seperti Finlandia, Singapura, China, Jepang, dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa pembangunan daya saing nasional sangatlah kompleks dan membutuhkan jangka waktu lama. Namun, pengalaman mereka dalam beberapa hal bisa dipetik menjadi pelajaran berharga.

“Pertama, negara tersebut mampu mengubah `herited-competitiveness` menjadi `created-competitiveness`. Daya saing tidak lagi bergantung pada ketersediaan dan berlimpahnya sumber daya alam,” paparnya.

Negara-negara tersebut, lanjut Firmanzah, mampu keluar dan mengubah minimnya kekayaan alam menjadi kemampuan berinovasi untuk menghasilkan produk dan jasa bernilai tinggi.

Semua elemen bangsa, tidak terkecuali pemerintah, parlemen, dan pelaku usaha bersama-sama membangun sistem yang transparan, holistis, efisien, dan mengedepankan aspek keterkaitan industri pusat dan daerah, katanya.

Bagi Indonesia, lanjut dia, hal itu menjadi penting lantaran kebijakan desentralisasi berpotensi membuat arah industri tidak fokus.

“Secara nasional pemerintah mampu mendesain sistem insentif dalam hal `start-up` bisnis, inovasi, investasi, kemudahan perizinan, prosedur ekspor, dan insentif pajak dalam membangun basis industri nasional mereka,” paparnya.

Sementara itu, pengamat ekonomi Universitas Brawijaya, Ahmad Erani Yustika, mengatakan dana asing diperbolehkan masuk asalkan untuk tujuan investasi langsung (direct investment).

Selain itu, kata dia, struktur ekspor Indonesia masih didominasi oleh bahan mentah, khususnya sektor perkebunan dan pertambangan.
“Hal ini menyebabkan penerimaan devisa nasional menjadi tidak maksimal. Dalam hal penentuan harga, komoditas primer lebih banyak diatur melalui mekanisme permintaan dan penawaran di pasar komoditas dunia,” katanya.(Ant)

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS