My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Pencemaran Laut Timor Dilaporkan ke Australia

04 Mei
11:35 2010

Kupang – Kasus pencemaran Laut Timor akibat tumpahan minyak dari sumur minyak Montara yang terjadi pada Agustus 2009 lalu, secara resmi telah dilaporkan ke Pemerintah Australia untuk ditindak lanjuti.

Kasus pencemaran Laut Timor ini dilaporkan Koordinator Yayasan Peduli Timor Barat, Ferdi Tanoni kepada Komisi Penyelidikan Australia melalui penasihat hukumnya Dr Christine Mason, yang berkebangsaan Australia.

“Saya sudah mengajukan data-data tentang pencemaran wilayah perairan Indonesia di Laut Timor akibat meledaknya sumur minyak Montara pada 21 Agustus 2009 lalu ke Komisi Penyelidikan Australia untuk menuntut ganti rugi kepada operator ladang minyak tersebut dan pemerintah Australia,” kata Tanoni kepada pers di Kupang, Selasa.

Tanoni yang juga pemerhati masalah Laut Timor itu mengatakan, pengajuan data tentang pencemaran minyak di Laut Timor itu dilakukan pada 30 April atau pada hari terakhir penerimaan pengaduan masyarakat terkait dengan pencemaran Laut Timor ke Komisi Penyelidikan Australia.

Data tentang pencemaran minyak mentah di wilayah perairan Indonesia di Laut Timor itu, kata penulis buku “Skandal Laut Timor Sebuah Barter Politik Ekonomi Canberra-Jakarta” tersebut, setebal lima halaman disertai lampiran data mengenai bukti pencemaran tersebut.

Mantan agen imigrasi Kedutaan Besar Australia itu menjelaskan, yayasan yang dipimpinnya sampai akhirnya mengambil keputusan untuk mengadukan persoalan pencemaran minyak mentah di Laut Timor itu ke Komisi Penyelidikan Australia karena adanya tarik ulur antara masyarakat dan Tim Nasional Penanggulangan Keadaan Darurat Tumpahan Minyak di Laut (PKDTML).

Selain itu, adanya tarik ulur antara pemerintah Provinsi NTT dan pemerintah pusat soal kewenangan penanganan tumpahan minyak Montara tersebut di Laut Timor.

“Setelah mencermati tidak menentunya situasi tersebut di dalam negeri, saya langsung menghubungi penasihat hukum YPTB di Australia, yakni Dr Philip Vincent dan Dr Christine Mason untuk segera mengajukan pengaduan beserta data-data pencemaran ke Komisi Penyelidikan Australia,” katanya.

Ia menambahkan dalam pengajuan data tersebut, YPTB juga menyampaikan perlu adanya sebuah investigasi total terhadap kerugian ekologis dan ekonomis yang diderita masyarakat NTT, khususnya di wilayah Timor Barat, Rote Ndao, Sabu, Sumba, Flores, Lembata dan Alor, akibat pencemaran tersebut.

“Investigasi total ini penting dilakukan untuk menentukan secara pasti besarnya kerugian yang telah terjadi akibat pencemaran minyak menyusul ledakan sumur mnyak Montara di Blok Atlas Barat Perairan Laut Timor,” katanya.

Tanoni menambahkan dalam pekan ini pihaknya akan membentuk sebuah tim independen yang terdiri atas para ahli oseanologi, hukum international, ekologi, perikanan, lingkungan, dan ekonomi untuk mulai melakukan pekerjaan.(Ant)

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS