My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Pencemaran Laut Indonesia Masih Tinggi

16 Mei
12:33 2010
Pencemaran Laut Indonesia Masih Tinggi

Padang – Tingkat pencemaran lingkungan di laut Indonesia masih tinggi, ditandai antara lain dengan terjadinya eutrofikasi atau meningkatnya jumlah nutrisi yang disebabkan oleh polutan.

“Nutrisi yang berlebihan tersebut, umumnya berasal dari limbah industri, limbah domestik seperti deterjen, maupun aktivitas budidaya pertanian di daerah aliran sungai yang masuk ke laut,” terang Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (Pusdatin KKP), Soen`an H. Poernomo dalam siaran persnya, Minggu (16/5).

Pencemaran di laut bisa pula ditandai dengan meningkatnya pertumbuhan fitoplankton atau algae yang berlebihan dan cenderung cepat membusuk.

Kasus-kasus pencemaran di lingkungan laut atau yang kerap disebut dengan red tide umumnya terjadi di muara-muara sungai, seperti yang pernah terjadi di Teluk Jakarta pada 1992, 1994, 1997, 2004, 2005, 2006.

Di Ambon terjadi pada 1994 dan 1997, di perairan Cirebon-Indramayu tahun 2006 dan 2007, Selat Bali dan muara sungai di perairan pantai Bali Timur tahun 1994, 1998, 2003, 2007, dan di Nusa Tenggara Timur tahun 1983, 1985, 1989.

Meski kerap terjadi, inventarisasi terjadinya red tide di Indonesia sampai saat ini masih belum terdata dengan baik, termasuk kerugian yang dialami.

“Mungkin kurangnya pendataan red tide ini disebabkan oleh kejadiannya yang hanya dalam waktu singkat,” katanya.

Karena itu untuk menanggulangi red tide sebagai bencana, beberapa lembaga Pemerintah dan institusi pendidikan telah melakukan penelitian meskipun masih dilakukan secara sporadis.

Secara umum Soen’an H Poernomo mengatakan bahwa kerugian secara ekonomi akibat dari red tide ini, adalah hasil tangkapan nelayan yang menurun drastis, gagal panen para petambak udang dan bandeng, serta berkurangnya wisatawan karena pantai menjadi kotor dan bau oleh bangkai ikan.

Karena itu, kata Soen`an seminar bertema Dampak Pencemaran Lingkungan Laut Terhadap Produktivitas Sumberdaya Kelautan, digelar Dewan Kelautan Indonesia (DEKIN) di Jakarta baru-baru ini, diharapkan dapat membuka wacana dan pemahaman mengenai dampak red tide terhadap produktivitas sumber daya kelautan.

Soen’an juga mengatakan salah satu jenis pencemaran yang terjadi di lingkungan laut, yakni eutrofikasi atau meningkatnya jumlah nutrisi yang disebabkan oleh polutan.

Efek terjadinya red tide juga ditunjukkan penurunan kadar oksigen serta meningkatnya kadar toksin yang menyebabkan matinya biota laut, penurunan kualitas air, serta tentunya menganggu kestabilan populasi organisme laut.

“Akibat lautan tertutup dengan algae pada saat berlimpah, maka matahari sulit untuk menempuh ke dasar laut dan pada akhirnya menyebabkan berkurangnya kadar oksigen dalam laut, jelasnya.

Selain itu, sebagian algae juga mengandung toksin atau racun yang dapat menyebabkan matinya ikan dan mengancam kesehatan manusia bahkan menyebabkan kematian apabila mengkonsumsi ikan yang mati tersebut.

Tanpa adanya limbah, sebagai fenomena alam sesungguhnya meningkatnya pertumbuhan algae ini sangat jarang terjadi, katanya.(Ant)

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS