My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Penambangan Emas Ancam Populasi Penyu di Banyuwangi

30 Januari
14:30 2009
Penambangan Emas Ancam Populasi Penyu di Banyuwangi

Banyuwangi – Populasi penyu di pantai Sukamade, Banyuwangi, Jawa Timur, kelestariannya terancam oleh penambangan emas di gunung Tumpang Pitu yang dilakukan PT Indo Multi Niaga (PT IMN). Serta populasi penyu terancam berkurang karena telur penyu banyak dicuri dan daging penyu diburu oleh warga.

Kepala Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), Hery Subagiadi, Jumat (30/1), kepada Antara, mengatakan, penambangan emas dan mineral di gunung Tumpang Pitu menjadi ancaman kelestarian populasi penyu di pantai Sukamade. Hery berharap pemberian ijin eksploitasi tambang emas perlu ditinjau kembali demi kelestarian populasi penyu di Indonesia.

Data penyu yang naik di pantai Sukamade menyebutkan, pada tahun 2006 sebanyak 1007 ekor. Jumlah penyu yang naik pada tahun 2007 adalah 851 ekor. Sejumlah 1686 ekor penyu pada tahun 2008 naik ke pantai Sukamade. Hery menambahkan, sebagian besar penyu yang naik ke pantai Sukamade jenis penyu hijau dan penyu slengkrah.

Sementara itu humas PT IMN, M. Rusli, mengatakan, aktivitas yang dilakukan PT IMN saat ini eksplorasi. “Hingga saat ini tidak ada pembuangan limbah baik di buang ke darat maupun ke laut,” katanya menegaskan.

Kordinator Aliansi Mahasiswa Masyarakat Peduli Lingkungan (AMMPEL) mengatakan, tambang emas di gunung Tumpang Pitu selain mengancam populasi penyu, juga mengancam kehidupan petani dan nelayan. Pasalnya, kawasan gunung Tumpang Pitu termasuk kawasan resapan air.

Tambang emas membutuhkan pasokan air melimpah dan pohon banyak yang ditebang untuk penambangan emas. Padahal banyak warga di sekitar tambang menjadi petani yang berharap sawahnya tidak kekurangan air. Limbah “tailing” berpotensi merusak ekosistem di laut. Nelayan di pantai Muncar, Grajagan, dan Pancer terancam ikan yang ditangkap berkurang.(Ant.)

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS