My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Pemilik Kapal Upayakan Pembebasan ABK Asal Indonesia

20 Januari
00:10 2011
Pemilik Kapal Upayakan Pembebasan ABK Asal Indonesia

MV. Samho Jewelery

Jakarta – Pemilik kapal Kapal Samho Jewerly sedang bernegosiasi untuk membebaskan dua pelaut Indonesia yang disandera perompak asal Somalia di Laut Arab.

Presiden Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI), Hanafi Rustandi dalam siaran persnya yang diterima di Jakarta, Rabu (19/1), mengatakan, seluruh proses negosiasi untuk membebaskan pelaut di kapal tersebut merupakan wewenang pemilik kapal, tanpa ada campur tangan dari pihak luar.

“Ini merupakan kesepakatan internasional yang harus dipatuhi semua pihak selama negosiasi berlangsung,” kata Hanafi.

Hanafi menjelaskan KPI sudah meminta Kementerian Luar Negeri RI bekerja sama dengan pemerintah Korea Selatan sebagai negara asal pemilik kapal dalam upaya pembebasan awak kapal, termasuk dua pelaut Indonesia yang disandera perompak bersenjata Somalia.

KPI juga minta PT Korin Jakarta, agen penempatan dua pelaut itu menginformasikan perkembangan pelaut Indonesia yang menjadi korban penyanderaan tersebut Samho Jewerly, sebuah kapal kargo milik perusahaan Korea Selatan pekan lalu dibajak perompak bersenjata Somalia saat melintasi Laut Arab.

Kapal yang bermuatan 11.500 ton bahan kimia itu berlayar dari India menuju Srilangka. Sebelum ke Srilangka, kapal berbendera Korea itu menuju Uni Emirat Arab, lewat Laut Arab.

Di laut Arab inilah kapal yang diawaki 21 orang ini dibajak perompak bersenjata Somalia. Awak kapal terdiri dari 8 orang warga Korea, 11 orang dari Myanmar dan dua orang berasal dari Indonesia.

Kedua pelaut Indonesia bernama Sonny Aritonang asal Medan, Sumatera Utara, dan Ufuk Megantoro dari Surabaya, Jawa Timur.

Menurut Hanafi, nasib semua awak kapal yang disandera kelompok bersenjata Somalia itu menjadi tanggung jawab pemerintah Korea Selatan, karena kapal tersebut berbendera Korea.

Namun Indonesia tidak bisa mendesak pemerintah Korea untuk segera membebaskan awak kapal, karena negosiasi akan dilakukan oleh pemilik kapal.

“Kita hanya bisa meminta informasi dari Korea tentang perkembangan negosiasi antara pemilik kapal dengan perompak.” katanya.

Kedua pelaut asal Indonesia bekerja di kapal itu melalui Collective Bargaining Agreement (CBA) yang ditandatangani pemilik kapal dengan KPI.

Sonny Sangaya Aritonang naik kapal tersebut sejak 22 Desember 2010 dengan posisi sebagai Mualim II, sedangkan Ufuk Megantoro naik kapal sejak 16 Oktober 2010 sebagai Masinis III.(Ant)

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS