My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Pemerintah Perlu Segera Melakukan Kajian Arkeologi Bawah Air di Papua

 Breaking News
05 Agustus
01:46 2017
Pemerintah Perlu Segera Melakukan Kajian Arkeologi Bawah Air di Papua

Jayapura – Arkeolog Hari Suroto mengemukakan sudah saatnya pemeirntah melakukan kajian ilmiah arkeologi bawah air terhadap perairan Papua dan Papua Barat.

“Perairan Papua sejak masa prasejarah hingga kini berperan dan berpengaruh dalam kehidupan manusia baik sebagai sumber mencari makanan, berlayar antarpulau dan berdagang antarpulau maupun aktivitas lainnya yang berkaitan dengan laut,” terang Hari Suroto, kepada AntaraNews di Jayapura Sabtu (5/8).

Menurut Suroto, selama ini di Papua belum pernah dilakukan penelitian arkeologi bawah air yang disebabkan oleh keterbatasan peralatan dan sumber daya manusia.

“Tentunya hal ini, berbeda dengan penelitian arkeologi di daratan. Penelitian arkeologi bawah air membutuhkan dana lebih besar untuk membeli peralatan, akses ke lokasi, serta tingkat kesulitan tinggi untuk penelitian arkeologi bawah air,” katanya.

Lebih lanjut Hari Suroto menerangkan bahwa Papua dan Papua Barat memiliki potensi tinggalan arkeologi bawah air diantaranya kapal perang maupun pesawat terbang peninggalan Perang Dunia II selama masa Perang Pasifik.

“Kapal peninggalan Perang Pasifik milik Amerika, The Junkyard terdapat di perairan Pulau Amsterdam. Kapal Jepang, Shiwa maru di perairan Manokwari. Pesawat tempur Zero di perairan Pulau Rippon, Wandamen. Pesawat Amerika P47-D Razorback di Pulau Wai, Raja Ampat,” katanya mencontohkan.

Untuk itu, menurut Hari Suroto, sudah saatnya Pemerintah Indonesia meratifikasi Konvensi UNESCO tahun 2001 tentang Perlindungan Warisan Budaya Bawah Air.

“Dalam konvensi ini mengatur tentang perlindungan warisan budaya bawah air untuk kepentingan umat manusia sekaligus mencegah eksploitasi secara komersial. Dengan meratifikasi konvesi UNESCO, pemerintah Indonesia otomatis harus menyediakan dana untuk penelitian dan perlindungan tinggalan arkeologi bawah air,” katanya.(Antara)

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS