My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Peledak Rusak Terumbu Karang di Bangka

12 Juli
23:25 2008
Peledak Rusak Terumbu Karang di Bangka

Bintang Gerilja – indosmarin.com

Pangkalpinang – Penggunaan bahan peledak ikan yang dilakukan nelayan di beberapa pulau, seperti Mendanau, Lepar, Pongok, Pulau Lancur dan Naduk, di wilayah perairan Provinsi Bangka Belitung (Babel) mengakibatkan kerusakan terumbu karang.

Seorang penyelam senior pemegang sertifikat scuba diver yang dikeluarkan Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI), Dodi Setiawan, di Pangkalpinang, mengatakan kepada ANTARA bahwa pernah melihat langsung praktik nelayan yang menggunakan peledak ikan untuk mendapatkan hasil tangkapan yang banyak.

Ia melihat sendiri, patahan-patahan karang berserakan didasar laut akibat adanya peledak tersebut. “Saya sedih melihat terumbu karang ada yang rusak. Padahal untuk tumbuh satu sentimeter saja dibutuhkan waktu bertahun-tahun,” ujarnya. Praktik-praktik menangkap ikan menggunakan bom itu diperkirakan dilakukan oleh nelayan dari luar provinsi Bangka Belitung.

Belakangan ini, Dodi menyatakan, praktik menangkap ikan menggunakan bahan peledak itu sudah mulai berkurang akibat makin ketatnya aparat keamanan mengawasi perairan. Terumbu karang di Bangka Belitung yang berada di pertengahan Pulau Lepar dan Pongok dinilainya masih lestari dengan ragam ikan dan plasma nuftahnya.

“Mungkin wilayah ini luput dari perhatian nelayan. Kita harapkan warga masyarakat dan nelayan ikut serta mengawasi adanya upaya menangkap ikan dengan peledak itu,” ujarnya.

Di perairan Lepar dan Pongok itu bisa ditemukan aneka jenis ikan karang, seperti Barakuda, anemo dan berbagai jenis keong. Kedalaman terumbu karang dan ikan-ikan laut itu hanya berada pada kedalaman 5-7 meter. Keindahannya akan semakin terlihat bila diselami dan bermain-main bersama ikan karang.

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Babel, Yulistyo, membenarkan adanya kerusakan terumbu karang di beberapa perairan Bangka Belitung. Kerusakan itu, menurut Yulistyo justru lebih banyak disebabkan praktek tambang timah apung menggunakan kapal isap hingga karang ikut hancur dan tersedot. Ia mengatakan, pengusaha timah harus tahu diwilayah mana saja yang ada karang dan tidak melakukan penambangan timah di tempat tersebut.

“Kalau karang rusak ikan akan jadi berkurang dan keindahan alam bawah laut Bangka Belitung akan rusak,” ujarnya menambahkan. (*)

Tags
Share

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS