My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Papua Kesulitan Dana Berbenah Wisata Sejarah Perang Dunia II

16 Mei
08:09 2011

Jayapura

Sentani – Wisatawan Jepang yang berkunjung ke Papua, ternyata bukan untuk bersenang-senang saja tetapi juga berziarah ke tempat-tempat gugurnya anggota balatentara Dai Nippon (Jepang) dalam medan Perang Dunia II.

Konsultan Pariwisata Kabupaten Jayapura Mian Simanjuntak, Senin (16/5) mengatakan sesuai dengan kepercayaan orang Jepang, dimana mereka meninggal maka arwahnya pun tinggal di situ, sehingga keluarga yang ditinggalkan harus berziarah dan berdoa di tempat tersebut.

“Mereka datang ke sini bukan untuk bersenang-senang, dengan mengunjungi tempat-tempat wisata seperti ke Wamena, tetapi datang mencari makam orang tuanya,” katanya.

Mian Simanjuntak mengatakan, untuk menjaga tempat-tempat yang dianggap pemakaman tentara Jepang yang gugur pada Perang Dunia II di Bumi Khenambai Umbai ini, pemerintah daerah membangun tugu secara permanen.

Seperti di Distrik Depapre ada tugu McArthur dan pemakaman massal tentara Jepang di Genyem, Distrik Nimboran, dan beberapa tempat lainnya.

“Sebenarnya mereka berkeinginan untuk memindahkan tengkorak orang tuanya itu ke negaranya, tetapi kita berusaha jangan sampai itu terjadi, kita biarkan saja disitu supaya mereka selalu datang walaupun hanya untuk berziarah,” ujarnya.

Hanya saja, pihaknya terbentur dengan masalah biaya untuk membangun tugu-tugu karena untuk membangun yang lebih baik memerlukan dana yang cukup besar.

Seperti di Genyem, pihaknya sudah mempunyai konsep yaitu membangun monumen sejarah peninggalan Perang Dunia II, seperti di Kabupaten Biak, namun itu memerlukan anggaran yang cukup besar.

Sementara dana pemerintah daerah sangat terbatas, khususnya untuk pengembangan parawisata apalagi Kabupaten Jayapura saat ini terus membenahi keparawisataan karena setiap tahunnya menggelar pesta akbar budaya Festival Danau Sentani (FDS) yang sudah memasuki tahun ke-4.(Ant)

1 Komentar

  1. It's Me
    It's Me Agustus 10, 12:09

    Komentarmu sangat ketinggalan sekali ibu konsultan. Ini sudah tahun berapa? Uang yang dinas pariwisata pake untuk jalan2 itu kenapa tidak pake untuk bangun tempat2 wisata? Turis asing itu bukan baru datang di bumi Papua, tapi selalu, setiap tahun. Kenapa baru sadar kalo anda perlu bangun tempat2 wisata supaya yang orang Jepang itu bisa datang terus ke Papua.

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS