My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Pangarmatim: Operasi Pengawasan Laut Terhambat Keterbatasan BBM (2)

 Breaking News
16 Desember
23:51 2014
Pangarmatim: Operasi Pengawasan Laut Terhambat Keterbatasan BBM (2)

Ambon – Pangarmatim Henrycus Sembiring, menandaskan, kapal pemburu seperti KRI Abdul Halim Perdanakusuma jika sedang beroperasi mengejar kapal ikan yang ketahuan melakukan penangkapan ikan ilegal, harus diikuti kapal lainnya yang bertugas menyuplai kebutuhan bahan bakar, sehingga KRI tidak perlu harus kembali ke pangkalan untuk mengisi tambahan BBM.

Pangarmatim Henrycus Sembiring mengakui kawasan perairan seperti laut Arafura sangat kaya akan potensi sumber daya perikanan bernilai ekonomis tinggi di pasaran dunia, sehingga menjadi incaran kapal-kapal penangkap ikan berbendera Indonesia maupun asing melakukan aktivitas penangkapan ilegal secara besar-besaran.

“Laut Arafura sangatlah luas dan menjadi sarang aktivitas penangkapan ikan secara ilegal. Guna mengawasi secara ketat maka TNI AL perlu mengerahkan beberapa kapal untuk patroli rutin. Makanya pemerintah perlu mempertimbangkan penambahan bahan bakar untuk operasional kapal patroli,” katanya.

Pangarmatim menambahkan KRI Abdul Halim Perdanakusuma saat berpatroli berhasil menangkap dua kapal berbendera Papua Nugini (PNG) dan enam kapal eks asing berbendera Indonesia yang melakukan penangkapan ikan secara ilegal di sekitar perairan Laut Arafura provinsi Maluku dan Merauke, Papua, pada 7 Desember 2014.

Dua kapal berbendera Papua Nugini tersebut yakni kapal Century-4 dengan kapasitas 250 gross tonage (GT) membawa 47 orang anak buah kapal (ABK) berkewarganegaraan Thailand serta kapal Century-7 berkapasitas 200 GT dengan 13 orang ABK juga warga negara Thailand. Mereka melakukan penangkapan ilegal karena tidak memiliki ijin resmi.

Sedangkan enam kapal ikan eks Thailand berbendera Indonesia yang ditangkap yakni KM Sino-15 (275 GT), KM Sino-26 (265 GT), KM Sino-36 (268 GT), KM Sino-33 (268 GT), KM Sino-35 (268 GT) dan KM Sino-27 (265 GT).

Delapan kapal tersebut bersama barang bukti lainnya berupa 578 ton ikan campuran hasil tangkapan dan 129 warga negara asal Thailand dan Tiongkok serta 11 ABK Indonesia sedang ditahan untuk kepentingan pemeriksaan dan penyelidikan lanjutan.(Ant)

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *