My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Meski Diancam Tiongkok, Pesawat Filipina Tetap Terbangi Kawasan Sengketa

 Breaking News
25 Mei
17:04 2015
Meski Diancam Tiongkok, Pesawat Filipina Tetap Terbangi Kawasan Sengketa

Manila – Presiden Filipina, Benigno Aquino, Senin (25/5) mengatakan bahwa pesawat militer dan komersial Filipina akan tetap terbang di atas kawasan sengketa Laut Tiongkok Selatan meski Beijing telah mengeluarkan peringatan keras tentang larangan terbang di wilayahnya.

“Kami akan tetap menggunakan rute penerbangan sesuai dengan hukum internasional dari berbagai konvesi yang kami sepakati,” kata Aquino kepada sejumlah wartawan saat ditanya sikap Filipina terkait ancaman Tiongkok.

Mengenai peringatan Tiongkok untuk tidak terbang di wilayah sengketa, Aquino mengatakan bahwa Filipina tidak akan menyerahkan wilayahnya kepada Beijing meski dia mengakui bahwa kekuatan militer kedua negara tidak berimbang.

“Kami akan mempertahankan hak kami di zona ekonomi eksklusif,” kata dia.

“Kesimpulannya adalah, kami akan mempertahankan hak dengan segala kemampuan kami,” katanya.

Di sisi lain, Aquino juga mengungkapkan bahwa negaranya tengah merundingkan sengketa wilayah tersebut dengan Amerika Serikat yang merupakan sekutu terdekat.

Pada pekan lalu, pihak militer Tiongkok meminta pesawat mata-mata P-8 Poseidon milik Amerika Serikat untuk keluar dari wilayah udara yang status kepemilikannya masih disengketakan, yaitu kepulauan Spratly, yang terletak Laut Tiongkok Selatan.

Pihak kementerian luar negeri Tiongkok kemudian menegaskan bahwa mereka mempunyai hak kedaulatan di perairan tersebut, termasuk kekayaan laut dan juga udara di atasnya.

Beijing mengklaim hampir seluruh wilayah Laut Tiongkok Selatan, bahkan di tempat-tempat yang sangat dekat dengan garis pantai Filipina dan sejumlah negara lain di Asia Tenggara, sebagai bagian dari teritorinya.

Bahkan Tiongkok melakukan sejumlah tindakan yang dinilai mengkhawatirkan bagi negara-negara yang turut bersengketa. Salah satunya adalah reklamasi besar-besaran di kepulauan Spratly, terletak diantara Filipina dan Vietnam, untuk mengubah wilayah terumbu karang menjadi pulau buatan.

Pulau buatan itu rencananya akan digunakan sebagai landasan pesawat udara dan juga pembangunan fasilitas militer lainnya. Selain Filipina, negara lain yang bersengketa dengan Tiongkok adalah Vietnam, Malaysia, dan Brunei Darusalam. Semua negara tersebut, kecuali Brunei, mempunyai fasilitas militer di kepulauan Spratly.(Ant)

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *