My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Menurun, Jumlah Penyu Bertelur di Pantai Paloh

04 Maret
09:53 2011

Tukik Penyu Hijau

Paloh – Akibat perubahan ekosistem, jumlah penyu yang mendarat dan bertelur di Pantai Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat terus mengalami penurunan.

“Perubahan ekosistem yang disebabkan oleh alam maupun manusia, sehingga mempengaruhi penyu untuk bertelur,” kata Koordinator Penyu Paloh WWF Indonesia, Dwi Suprapti, di Paloh, Sambas, Jumat (4/3).

Pantai Paloh yang berada di Kecamatan Paloh, berbatasan dengan Sarawak, Malaysia. Panjang Pantai Paloh mencapai 63 kilometer. World Wild-life Fund for Nature (WWF) Indonesia baru mulai melakukan pengamatan secara intensif sejak pertengahan tahun 2009.

Lokasi yang paling sering didarati penyu untuk bertelur adalah area sepanjang 19,3 kilometer dari Sungai Belacan ke Mutusan. Ada dua endemik penyu yang paling sering mendarat di Pantai Paloh untuk bertelur yakni penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata).

Berdasarkan data WWF Indonesia, puncak masa bertelur penyu antara Juni hingga Oktober.

Di tahun 2009, jumlah sarang telur penyu hijau di pantai sepanjang 19,3 kilometer itu saat puncak musim adalah 2.102 buah, penyu sisik 41 buah.

Pada 2010, pada periode yang sama, ada 1.501 sarang telur penyu hijau, penyu sisik delapan sarang. Sementara itu, sepanjang tahun 2010, total sarang penyu hijau adalah 1.994 buah, penyu sisik 46 buah.

Jumlah penyu hijau yang mendarat di pantai tersebut, di tahun 2010 sebanyak 4.123 individu, penyu sisik 72 individu. Tidak semua penyu yang mendarat di pantai, bertelur.

Menurut Dwi Suprapti, penyu akan bertelur pada kawasan yang kondisinya kondusif, yakni bebas dari aktivitas, tidak adanya cahaya buatan dan sampah yang mengganggu perjalanan mereka di pantai. Kondisi pantai yang dituju penyu untuk bertelur landai, tanpa karang.

“Penyu hijau selalu mencari tempat teraman untuk bertelur,” kata Dwi Suprapti.

Lokasi sumber makanan penyu hijau adalah padang lamun dan algae. Padang lamun merupakan rumput laut yang mempunyai akar pengikat pasir yang dapat mencegah abrasi. Lamun merupakan tanaman biji-bijian. Biji yang dimakan penyu akan dikeluarkan kembali menjadi bibit yang disebar ke berbagai perairan.

Sedangkan, penyu hijau memakan karang-karang tua yang dapat memicu tumbuhnya karang-karang baru. “Sisa makanan karang berupa pasir yang dikeluarkan kembali penyu sisik,” kata Dwi, dokter hewan alumni Universitas Udayana, Bali.

Lokasi makanan itu akan terganggu, misalnya akibat tingkat keruh air yang tinggi disebabkan aktivitas manusia, sehingga penetrasi cahaya matahari tidak menjangkau lamun.

Lamun, sebagai rumput laut, membutuhkan sinar matahari untuk tumbuh.
“Tumpahan minyak juga mengganggu kualitas feeding area penyu,” ucap Dwi, yang asli Singkawang, Kalbar itu.

Selain itu, peningkatan suhu air laut memicu terjadinya pemutihan karang, sehingga tidak dapat hidup dan tumbuh. Padahal, karang dapat berfungsi sebagai sumber makanan biota laut dan pemecah ombak di pantai.

“Kalau dalam satu ekosistem ada yang hilang, maka akan terganggu ekosistem tersebut,” papar Dwi.

Kecamatan Paloh berada di sebelah utara Pontianak dengan jarak sekitar 300 kilometer. Pantai Paloh berhadapan dengan Laut Natuna dan perairan Kepulauan Riau.(Ant)

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS