My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Menteri Susi: Negara Tidak Boleh Kalah dengan Pencuri Ikan

 Breaking News
26 September
00:14 2015
Menteri Susi: Negara Tidak Boleh Kalah dengan Pencuri Ikan

Jakarta – Kedatangan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti ke Sabang, Aceh, Jumat, adalah keselarasan dari pernyataan “Negara tidak boleh kalah” yang telah diucapkannya beberapa kali terkait dengan pencurian ikan.

Di Sabang, tepatnya di Pulau Weh, Menteri Susi meninjau kapal MV Silver Sea 2 yang ditangkap oleh kapal TNI AL, KRI Teuku Umar di perairan Sabang 83 mil dari Pulau Sumatra, 12 Agustus 2015.

Kapal berbendera negara Thailand tersebut ditangkap karena diduga kuat menampung ikan hasil curian dari perairan Indonesia.

Saat ditangkap kapal berbobot 2.385 grosston (GT) dengan anak buah kapal 19 orang membawa ikan campuran seberat 1.930 ton yang disimpan di ruang pendingin.

Menteri Susi menegaskan, pihaknya sudah memantau gerak-gerik MV Silver Sea 2 sejak dua bulan terakhir sebelum ditangkap. Bahkan, pihaknya juga mendapatkan foto satelit maupun foto pemantauan udara aktivitas kapal tersebut.

Namun, upaya dari Menteri Kelautan dan Perikanan itu mendapat tantangan dari pemilik MV Silver Sea 2 yang melalui kuasa hukumnya, Hendri Rivai, sudah mengajukan gugatan praperadilan ke Pengadilan Negeri Sabang, karena penangkapan kapal kliennya tidak memiliki dasar hukum yang kuat.

“Kami menggugat praperadilan KKP karena kapal klien kami ditangkap tidak berdasarkan hukum. Gugatan praperadilan sudah kami masukkan ke Pengadilan Negeri Sabang,” kata Hendri Rivai.

Selain dari pihak Silver Sea 2, Susi juga mengatakan, pihaknya menerima serangan balik berupa gugatan dari pemilik Kapal MV Hai Fa yang divonis Rp200 juta terkait kasus pencurian ikan.

“Bagaimana ini di negara yang berdaulat, kami malah dituntut karena menegakkan hukum,” kata Susi Pudjiastuti di Jakarta, Kamis (17/9).

Sebagaimana diketahui, nakhoda kapal MV Hai Fa telah didenda sebesar Rp200 juta oleh vonis Pengadilan Perikanan Ambon pada Maret 2015.

Menteri Susi mengungkapkan, Hai Fa telah mengajukan gugatan perdata kepada Menteri Kelautan dan Perikanan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

KKP, ujar dia, telah menyampaikan bukti tertulis kepada majelis pemeriksa perkara di PN Jakpus, serta sedang menyiapkan saksi dan ahli untuk diajukan pada persidangan selanjutnya.

“Sidang dilaksanakan setiap hari Selasa,” kata Susi Pudjiastuti.

Sebelumnya, pihak Interpol juga telah merilis purple notice terhadap Hai Fa. Konsekuensi purple notice, jelas Susi, adalah menggerakkan penegak hukum atau masyarakat sipil internasional di sekitar 190 negara untuk mengumpulkan informasi terkait kapal Hai Fa yang dapat ditindaklanjuti kepada penegakan hukum.

Posisi terakhir Hai Fa, ungkap Susi, adalah berada di perairan Hong Kong sehingga Interpol juga telah mengirimkan surat kepada biro sentral nasional (NCB) Hong Kong untuk memantau dan memberikan informasi aktivitas Hai Fa.

“Sambil menyusun bukti-bukti baru, kami akan mengajukan purple notice menjadi red notice,” katanya.

Hal tersebut, lanjut Susi, karena bila sudah mendapatkan red notice maka kapal MV Hai Fa tersebut sudah harus ditangkap.

Sedangkan sejumlah tindak pidana perikanan yang akan diajukan terhadap pengelola kapal Silver Sea 2, papar Susi, adalah mengangkut ikan ke luar wilayah Indonesia tanpa dilengkapi sertifikat kesehatan ikan, melakukan alih muatan tidak sah di tengah laut, serta mematikan VMS (sistem pengawasan kapal) selama berlayar di perairan Indonesia.(AntaraNews.com)

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS