My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Marinir Inggris Tewas di Afghanistan

27 Mei
20:57 2010
Marinir Inggris Tewas di Afghanistan

London – Kementrian Pertahanan Inggris, Kamis (27/5) waktu setempat, mengumumkan tewasnya anggota marinir Inggris akibat ledakan di Afghanistan selatan. Anggota Marinir Komando 40 itu adalah satu dari dua tentara Inggris tewas di propinsi Helmand pada Rabu (26/5), sementara yang seorang lainnya tewas dalam kontak senjata melawan pejuang pimpinan Taliban.

Prajurit dari Resimen Artileri IV itu tewas akibat luka tembak senjata genggam dengan pejuang di daerah Nahr-e Saraj di propinsi Helmand.

“Ia sedang berjalan kaki meronda di daerah hijau di sekitar Sangin ketika secara menyedihkan terkena ledakan,” kata juru bicara tentara Letnan Kolonel James Carr-Smith seperti yang diberitakan BBC London.

Kematian marinir itu menjadikan 288 jumlah tentara Inggris tewas di Afghanistan sejak gerakan dimulai pada 2001. Ia adalah tentara ketujuh tewas pada bulan ini.

Pemerintah gabungan baru di London menjadikan perang di Afghanistan kebijakan utama politik luar negerinya.

Menteri Luar Negeri William Hague, Menteri Pertahanan Liam Fox dan Sekretaris Pembangunan Antarbangsa Andrew Mitchell pada Sabtu (22/5)  menemui Presiden Afghanistan Hamid Karzai di Kabul untuk melakukan pembicaraan.

Inggris menempatkan sekitar 9.000 tentara di Afghanistan sebagai bagian dari pasukan asing, terutama untuk memerangi pejuang Taliban di Helmand.

Kedua menteri itu menyatakan tidak ada batas waktu bagi penarikan, tapi mengatakan memutuskan cara terbaik untuk mendukung siasat antarbangsa untuk mengahiri perlawanan tersebut.

Pada pekan lalu, Fox mengatakan kepada suratkabar “Times of London” bahwa pemerintah berharap mempercepat penarikan itu, dengan menyatakan Inggris di Afghanistan tidak demi kebijakan pendidikan di negara kacau abad ke-13 tersebut.

Dalam pernyataannya, yang disiarkan dalam bahasa Arab oleh harian “Bahrain Al Wasat”, ia menyatakan kunjungannya ke Afghanistan pada pekan ini bukan awal dari penarikan pasukan, tapi untuk membantu menilai keberhasilan pasukannya.

“Pernyataan ke `Times` itu adalah bukan salah ucap atau perubahan kebijakan, tapi memastikan kepada keluarga tentara kita bahwa kami hadir di Afghanistan untuk melindungi kepentingan kami dan menjauhkan bahaya dari negara kami,” katanya.

Fox menambahkan, “Kemudian kami pergi, kami bukan penjajah, kami bagian dari persekutuan, yang berusaha memastikan rakyat Afghanistan memiliki pemerintah untuk melindungi mereka dan kepemimpinan untuk mencapai tujuan mereka sebagai negara merdeka.”

Namun, dengan Inggris menghadapi kesulitan anggaran, pemerintah Perdana Menteri David Cameron ingin mengurangi biaya di Kementerian Pertahanan sampai sedikit-dikitnya 25 persen, meskipun telah berikrar menambah dukungan tentara.

Terdapat lebih dari 120.000 prajurit asing, terutama dari Amerika Serikat, di Afghanistan untuk membantu pemerintah Presiden Hamid Karzai mengatasi perlawanan, yang dikobarkan sisa Taliban.

Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan perlawanan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh serbuan pimpinan Amerika Serikat pada 2001, karena menolak menyerahkan pemimpin Al Qaida Osama bin Ladin, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah negara adidaya itu, yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.

Kekerasan di Afghanistan mencapai tingkat tertinggi dalam perang lebih dari delapan tahun dengan gerilyawan Taliban itu, yang memperluas perlawanan dari wilayah selatan dan timur negara tersebut ke ibu kota dan daerah lain, yang sebelumnya damai.(BBC/Gen)

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS