My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Made Aris Enggan Menyerah Pada Takdir

04 Agustus
00:44 2008
Made Aris Enggan Menyerah Pada Takdir

Gentry Amalo – indosmarin.com

Ubud – Banyak orang menyerah pada takdir hidup yang harus dijalaninya, tetapi berbeda dengan Made Aris, pemuda lajang kelahiran Viqueque, Timor Leste duapuluh tujuh tahun silam.

Aris demikian sehari-hari Ia disapa kawan-kawannya, tidak mau menyerah pada cacat fisik yang dideritanya. Diserang polio pada usia delapan tahun, membuat kedua kaki Aris tidak dapat difungsikan lagi.

Menginjak remaja, pemuda yang bernama lengkap Made Aris da Costa ini sempat mengalami krisis percaya diri, dan ini pula yang membuatnya keluar dari sekolah tingkat lanjut yang ditempuhnya di Dili.

Saat Timor Leste merdeka dari Indonesia pada 1999, Aris tinggal sendiri di Dili yang porak poranda. Aris kehilangan ayah tercinta yang meninggal akibat berondongan peluru sekelompok orang bersenjata.

Atas bantuan Palang Merah Internasional barulah anak kedua dari tiga bersaudara dapat berkomunikasi kembali dengan ibu dan kedua saudaranya. Kakak pertama Aris diketahui mengungsi ke Portugal, adik bungsunya mengungsi ke Lombok – NTB, sementara ibunya, yang berdarah Timor Leste diketahui mengungsi ke Tasmania – Australia.

Keadaan politik dan ekonomi Timor Leste yang tidak menentu, membuat Aris memutuskan pulang ke kampung halaman ayahnya di Gianyar – Bali pada 2001.

Di Bali, pemuda yang sempat hidup tidak menentu di Kuta ini, kemudian bertemu dengan warga negara Belanda yang menjadi salah satu sukarelawan di Yayasan Senang Hati, sebuah yayasan yang menangani para penyandang cacat.

Di yayasan ini, kepercayaan dirinya dibangun kembali. Cacat fisik tidak membuat malu lagi. Sehari-hari mereka melakukan banyak aktifitas seperti melukis, belajar bahasa asing, dan berenang bahkan sejak dua bulan lalu, Aris dan kelima kawannya mulai belajar menyelam!!!.

Ditemui di Vila Jineng – Ubud, Gianyar – Bali, Sabtu (02/08) lalu, Aris bersama beberapa kawannya kembali mencoba peralatan selam. Untuk mencoba peralatan selam ini, Aris dibantu Avandy dan Marco dari “Bali International Diving Professionals” (BIDP). Kedua nama terakhir ini adalah para instruktur handal yang memiliki sertifikasi internasional khusus menangani para penyandang cacat fisik.

Bersama Avandy dan Marco, Aris dan kawan-kawan terus giat berlatih. Alhasil pada pada pertengahan Juli silam, program “Sisi Lain” Trans TV – pun membuat profile dokumenter tentang Ia dan kedua kawannya sesama penyandang cacat, di situs menyelam Tulamben – Karangasem.

Nah, jika anda ingin menyaksikan aksi Aris dan kedua kawannya menyelam di laut Tulamben, silahkan saksikan program “Sisi Lain” Trans TV di minggu ketiga Agustus ini. Menurut Aris, menyelam membuat dirinya semakin yakin bahwa semua hal bisa dilakukan asal saja ada kemauan dan tekad yang kuat(*)

1 Komentar

  1. ariana
    ariana Agustus 06, 20:18

    Bagus ada program seperti ini, semoga program-program seperti ini bisa lebih sering diadakan di daerah-daerah lainnya.

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS