My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Korsel Tolak Batalkan Latihan Militer

19 Desember
13:17 2010
Korsel Tolak Batalkan Latihan Militer

Marinir Korea Selatan siap beraksi

Pulau Yeonpyeong – Korea Selatan pada Minggu (19/12) dilaporkan menolak tekanan dari Rusia dan China untuk membatalkan latihan yang menggunakan peluru tajam di pulau perbatasan yang ditembaki oleh Korea Utara bulan lalu.

Korut mengancam akan ada “bencana” bila Korsel tetap melangsungkan latihan militer di Pulau Yeonpyeong dekat dengan perbatasan Laut Kuning yang masih dalam sengketa tempat empat warga tewas terbunuh pada November.

“Kami tidak punya rencana untuk membatalkan latihan kami,” kata juru bicara kementerian pertahanan Korsel kepada AFP, menambahkan bahwa latihan selama satu hari itu akan dilangsungkan pada Senin atau Selasa.

Pertikaian tersebut dipicu oleh pengungkapan program pengayaan uranium Korut yang dapat digunakan juga untuk memproduksi senjata nuklir dan telah memunculkan kewaspadaan di seluruh dunia.

Pada Minggu, pesawat militer Korsel terbang di atas Yeonpyeong dengan marinir berpatroli dekat dengan barak tepi pantai mereka.

Kementerian luar negeri China dan Rusia berbicara lewat telepon pada Sabtu (18/12) dan meminta adanya pengendalian diri di Semenanjung Korea sementara Dewan Keamanan PBB bersiap untuk melangsungkan pembicaraan mengenai situasi tersebut.

“China dengan tegas menentang semua tindakan yang menyebabkan ketegangan dan situasi yang makin memburuk dan meminta kedua pihak di semenanjung untuk menunjukkan ketenangan dan pengendalian diri,” kata Menteri Luar Negeri China Yang Jiechi.

Kedua Korea harus “melakukan dialog dan komunikasi dan mencegah sepenuhnya segala tindakan yang akan memicu ketegangan,” kata Yang.

China, sekutu utama Korut menahan diri untuk mengecam pengeboman Pyongyang meski banyak pihak memintanya untuk menggunakan pengaruhnya atas Korut untuk mengintervensi krisis.

DK PBB akan melangsungkan pertemuan pada Minggu. Rusia mengungkapkan kemarahannya karena pertemuan itu tidak dibuat lebih awal.

“Kami menyesal mengenai hal tersebut. Kami yakin bahwa tindakan yang dilakukan oleh presiden berarti meninggalkan praktek yang sebelumnya dilakukan oleh DK PBB,” kata duta besar Rusia untuk PBB Vitaly Churkin.(Ant)

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS