My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Klenteng Sam Pho Khong Salah Satu Jejak Jalur Sutra (2)

09 Juni
19:57 2008
Klenteng Sam Pho Khong Salah Satu Jejak Jalur Sutra (2)

Hari Suroto-Indosmarin.com

Semarang Menurut catatan sejarah, armada Laksamana Zheng Ho mendarat di Jawa lebih dari satu kali, yakni pada 1405, 1407, 1409, dan 1413. Tak jelas kapan tanggal, bulan dan lokasi pendaratannya, tetapi salah satunya pastilah di Semarang . Pelabuhan Semarang adalah Simongan yang waktu itu terletak di tepi pantai. Di sini Zheng Ho menyebarkan Islam yang kebanyakan dianut masyarakat Cina.

Masyarakat ini lantas membangun gua tiruan untuk mengenang Zheng Ho setelah gua asli yang pernah ditinggali Zheng Ho runtuh. Tempat itu pernah jadi masjid tapi lambat laun berubah jadi kelenteng. Kelenteng inilah yang sekarang dikenal sebagai kelenteng Sam Pho Kong. Sam Poo adalah nama lain Zheng Ho.

Pada 1724, kelenteng ini dipugar, sekaligus diadakan peringatan besar bagi Sam Pho Tay Djien, dua kata terakhir itu berarti “sida-sida”. Masa itu banyak orang berziarah ke gua. Timbul kepercayaan, Sam Pho memberkati wilayah sekitar Simongan, dan mendatangkan rezeki. Pemugaran antara lain membangun atap, supaya peziarah di muka gua tidak kepanasan. Tak sedikit orang Cina yang bertempat tinggal di sekitar kelenteng.

Setelah Belanda, wilayah Simongan lantas dikuasai Johannes seorang pedagang Belanda keturunan Yahudi . Ia mewajibkan setiap peziarah membayar. Warga Cina yang berziarah di Klenteng ini lantas menghimpun dana karena Johannes minta sedikitnya 2.000 gulden Hindia Belanda. Tetapi angka ini kemudian diturunkannya menjadi 500 gulden. Toh para peziarah Cina ini tidak mampu membayar.

Namun mereka tidak hilang akal. Dibuatlah tiruan patung Sam Poo dan ditempatkan di Kelenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok, supaya mereka tetap bisa meneruskan persembahyangan. Keadaan macam ini membuat seorang pedagang Cina yang bernama Oei Tjie Sien, bersumpah: “kalau usaha dagangan maju, tanah Simongan akan dibeli.” Ternyata sumpah ini terkabul. Simongan dibeli dari tangan Johannes dan pintu kelenteng terbuka untuk siapa saja.

Pada 1937, kelenteng, yang juga disebut Gedung Batu itu, dipugar lagi atas prakarsa Lie Hoo Soen. Ia malah melengkapinya dengan gapura dan taman suci. Dibuat pula Pat-Sian-Loh, menghubungkan kelenteng dengan makam Kyai Juru Mudi, pengikut Zheng Ho yang menikah dan mati di situ, seorang juru mudi. Tahun itu pula Komite Sam Poo didirikan. Tugasnya mengurusi kelenteng. Pada 1950, komite berkembang jadi yayasan, sampai sekarang(*)

foto dikutip dari: galihsurya.dagdigdug.com

Tags
Share

1 Komentar

  1. Marlin. Tolla
    Marlin. Tolla Juni 14, 12:59

    Hmm,,, Cukup Menarik…!! Hitung2 menambah pengetahuan mengenai kekayaan sejarah di negara ini . walaupun sangat singkat namun sangat Informatif… ,, mudah-mudahan ini menjadi pembawa semangat buat saya sendiri dan bagi teman2 yang lain untuk memulai berkarya dan salah satunya yakni menulis, seperti yang sudah mulai dilakukan oleh Saudaraku Ini,, hehehhe,, Semangat selalu!!!

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS