My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Ketika Legenda Tak Mampu Selamatkan Pesut Mahakam

10 November
10:04 2008
Ketika Legenda Tak Mampu Selamatkan Pesut Mahakam

Iskandar Zulkarnaen – indosmarin.com

Samarinda – Legenda kisah asal muasal Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) sebagai titisan dua anak manusia selama ini bak mantera pawang sakti yang mampu melindungi satwa langka itu dari kepunahan selama ratusan tahun.

Selama itu Pesut Mahakam menjalani kehidupan damai, bertetangga dengan manusia di sungai-sungai besar di Kalimantan Timur karena legenda yang berkembang pada masyarakat lokal menuturkan satwa itu titisan kakak-beradik yang mengalami nasib naas karena kekejaman ibu tirinya.

Sejak ratusan tahun lalu sampai kini legenda itu terus hidup, sehingga nelayan yang secara tidak sengaja menjaring Pesut Mahakam bergegas untuk melepaskannya karena takut terkena tulah.

Legenda asal-muasal Pesut Mahakam sampai kini masih dipercaya masyarakat lokal yang menggantungkan hidup menjadi nelayan tradisional di sungai-sungai besar di Kalimantan Timur, namun tidak lagi mampu menyelamatkan satwa langka itu dari ancaman kepunahan.

Perubahan kualitas air sungai akibat tingginya tingkat pencemaran sungai akibat industri perkayuan dan batu bara di sepanjang Sungai Mahakam (Kalimantan Timur) menjadi ancaman serius yang tidak bisa menyelamatkan Pesut Mahakam.Kian sibuknya lalu-lintas sungai dengan hilir-mudiknya baik kapal-kapal besar maupun perahu kecil bermotor jadi ancaman serius lainnya. Kehidupan manusia yang bertambah ramai memanfaatkan sungai sebagai urat nadi transportasi telah “merampas” habitat Pesut Mahakam. Pesut Mahakam pun kian terkucil pada habitatnya akibat kalah bersaing dengan mesin-mesin kapal yang menebarkan suara bising serta mencemari sungai dengan limbah-limbah minyak beracun.

Beberapa kasus, Pesut Mahakam mati akibat terluka terkena baling-baling kapal dan perahu bermotor itu, seperti kejadian pada 21 Januari beberapa tahun silam, saat seorang warga, Anwar, warga Desa Rampanga, Loa Kulu, Kutai Kartanegara menemukan Pesut Mahakam mati terapung di sungai. Pesut Mahakam dewasa dengan panjang 2,5 meter itu mati dengan tubuh terluka melintang di kepala diduga terkena baling-baling kapal. Belum cukup dengan “penderitaan” itu, Pesut Mahakam juga kini harus berlomba dengan manusia dalam mendapatkan makanan.

Nelayan tradisional yang dulunya hanya mengandalkan mata kail atau jaring, kini menjadi “predator buas” dalam memburu ikan dengan menggunakan cara-cara tidak ramah lingkungan, mulai dari menebarkan racun tuba sampai menggunakan listrik untuk menangkap ikan dengan mudah dan ekonomis. Padahal, Pesut Mahakam adalah jenis mamalia sungai yang rakus. Pesut dewasa dalam satu bulan diperkirakan bisa melahap dua ton ikan dan udang. Asumsinya, apabila populasinya 50 ekor maka setidaknya dalam sebulan konsumsinya adalah 100 ton ikan dan udang. Potensi perikanan darat di Kutai Kartanegara, termasuk kawasan Sungai Mahakam yang menjadi habitat Pesut Mahakam adalah sekitar 30.000 ton yang sebagiannya sudah “dimakan” oleh nelayan setempat.

Keberuntungan
Era 1960-an, Pesut Mahakam mudah terlihat, biasanya ia menampakan diri pada pagi hari atau menjelang magrib. Warga Samarinda yang akan mengambil air wudhu sebelum menunaikan sholat Magrib di Masjid Tua (kini disebut Masjid Raya Darussalam) yang berada di Tepian Mahakam (kini Jalan Gajah Mada) sering melihat tiga atau lima ekor Pesut Mahakam bercanda ria sambil menyemburkan air dari puggungnya di tengah sungai.

Satwa langka itu secara umum berenang dalam formasi ganjil, tiga atau lima ekor. Kala itu, air Sungai Mahakam sangat jernih karena tidak ada pencemaran serta pembabatan hutan di kawasan pedalaman.

Puluhan tahun kemudian, Sungai Mahakam pada kawasan Samarinda telah menjadi kanal raksasa buangan limbah dari puluhan perusahaan kayu, industri lem, serta perusahaan batu bara di sepanjang Tepian Mahakam sehingga air yang tadinya jernih berubah menjadi coklat kehitaman.

Sungai Mahakam yang tadinya hening menjadi sangat bising dengan kehadiran mesin-mesin yang menggunakan pembakar bensin dan solar serta mencemari air dengan pelumas oli. Satwa yang pemalu itu akhirnya kian ke kawasan pedalaman Mahakam –kini masuk wilayah Kutai Kartanegara– untuk mencari kehidupan lebih tenang. Ketika Pesut Mahakam terancam punah, ironisnya, “pesut-pesutan” berupa patung, monumen serta relief dengan mudah terlihat di berbagai sudut kota, antara lain di sekitar Jembatan Mahakam, depan Kantor Gubernur Kaltim, dan terbanyak pada beberapa lokasi di “Kota Raja”, Tenggarong (Kutai Kartanegara/Kukar).

Seandainya dihimpun, maka dana untuk membangun patung dan monumen megah itu maka nilainya mencapai ratusan miliar rupiah. Sudah tentu nilai itu tidak sebanding dengan upaya konservasi Pesut Mahakam yang bahkan seperti terlupakan karena tidak tergambar dalam APBD Kaltim maupun APBD Kukar.

Untuk membuktikan Pesut Mahakam masih ada, maka bersama dengan warga pedalaman Mahakam dilakukan “perburuan” untuk melihat kehidupan satwa langka yang konon hanya hidup pada tiga belahan dunia itu, yakni Sungai Mahakam, Sungai Mekong dan Sungai Irawady.

Berdasarkan penuturan warga pedalaman Mahakam yang akrab dipanggil Pak Mamat, Pesut Mahakam akan menampakan diri saat arus Kedang Pahu (anak Sungai Mahakam), Kecamatan Muara Pahu (Kutai Kartanegara) tidak begitu kuat.

Setelah tawar-menawar, akhirnya Pak Mamad bersedia menerima Rp500.000 untuk “berburu” pesut selama satu hari. Satwa itu biasanya menampakan diri sejak matahari terbit sampai pukul 08:00 Wita dan antara pukul 16:00 Wita sampai magrib.

Setelah menyiapkan berbagai bekal, mulai dari beberapa bungkus rokok untuk saya dan Pak Mamat, makanan ringan, air mineral dan sudah tentu kamera yang sebenarnya tidak cocok untuk momen seperti itu, yakni Canon D80 dengan lensa standar.

Sekitar pukul 06:00 Wita, Pak Mamad tampak segar untuk memulai perjalanan mencari jejak Pesut Mahakam. Dengan sekali hentakan, ia berhasil menghidupkan mesin ketinting (sering pula disebut klotok) tuanya yang tampak masih terawat. Mesin ketinting dengan kapasitas 5-pk itu segera melaju membawa perahu kayu berwarna kuning yang pada haluannya tertulis “barokah”. Semoga kapal itu membawa berkah sehingga kita dapat melihat pesut. Pak Mamad tersenyum.

Setelah dua jam menunggu dengan menambatkan perahu pada sebuah pohon di pinggir sungai pada kawasan yang sepi dari aktifitas penduduk lokal, tanda-tanda Pesut Mahakam pada pagi hari itu tidak juga terlihat sehingga Pak Mamad menyarankan untuk kembali ke “markas” pada sebuah desa di Muara Pahu yang jaraknya sekitar 30 menit perjalanan sungai. Menjelang petang, perburuan dilanjutkan. Saat menegangkan itu pun tiba. Beberapa ekor pesut berenang sambil meloncat dengan menyemburkan air di samping perahu, sehingga tanpa sadar kamera segera dikeluarkan.

Namun, hal itu tidak mungkin terjadi karena Pesut Mahakam adalah satwa pemalu yang prilakunya sangat berbeda dengan lumba-lumba. Pesut adalah mamalia pasif yang suka menyembunyikan dirinya. Menjelang magrib, saat matahari kemarau memancarkan sinar merah jingga menembus kerapatan pohon-pohon besar di pinggir Sungai Kedang Pahu, tiba-tiba tampak riak-riak air yang semula tenang dari kibasan ekor tiga mamalia air tawar. Pak Mamat segera memberikan tanda tentang kemunculan Pesut Mahakam. Namun, sayang jarak yang terlalu jauh tidak mungkin bisa dijangkau oleh lensa standar D80 selain itu, posisinya melawan cahaya matahari senja menjelang peraduan menjadi hambatan untuk pengambilan gambar.

Dalam beberapa saat satwa langka itu seperti ingin menunjukan dirinya bahwa masih mampu bertahan hidup dalam kondisi habitat memprihatinkan. Kehadiran perahu ketinting lain yang melaju kencang dari arah berlawanan seperti predator ganas yang membuat takut Pesut Mahakam sehingga menjelang matahari terbenam sudah tidak berani lagi muncul ke permukaan. Menurut Pak Mamat, melihat Pesut Mahakam itu adalah sebuah keberuntungan karena tidak semua warga di sekitar Muara Pahu pernah melihat mamalia air tawar itu.

Harapan Baru

Ada beberapa hal perlu diluruskan terkait Pesut Mahakam. Misalnya, anggapan bahwa Pesut Mahakam hidup di tiga danau besar di Kaltim, yakni Danau Malintang (11.000 Ha), Danau Semayang (13.000 Ha) dan Danau Jempang (15.000 Ha). Kenyataannya, tiga danau itu sangat dangkal, bahkan saat kemarau akan menjadi delta-delta sehingga sebenarnya lebih tepat disebut sebagai rawa-rawa.

Padahal, Pesut Mahakam yang dewasa bisa mencapai berat satu sampai 1,5 kuintal hidup dalam habitat pada kedalaman air antara 9-12 meter. Prilakunya yang rakus dalam mengkonsumsi makanan, udang dan ikan tidak mungkin tersedia di rawa-rawa tersebut.

Daniella Kreb, seorang peneliti dari Belanda memperkirakan bahwa populasi mamalia yang menyerupai lumba-lumba yang hidup di air tawar di pedalaman Mahakam itu berjumlah 50 ekor. Asumsi itu berdasarkan pola kemunculannya.

Penelitian itu dilakukan pada 1990-an, sehingga apabila sampai kini belum ada tindakan nyata untuk menyelamatkan Sungai Mahakam dari pencemaran, termasuk mengatasi pendangkalan sungai, maka diperkirakan jumlah populasi satwa itu tidak mencapai 50-an ekor.

Kawasan yang dianggap masih menjadi habitat yang ramah adalah di sekitar Sungai Kedang Pahu karena tidak begitu ramai, tercemar serta masih banyak menyediakan makanan. Yang mengejutkan, belum lama ini, ada dua penemuan yang membuktikan bahwa Pesut Mahakam ternyata tidak hanya berada di Sungai Mahakam, Sungai Irawady dan Sungai Mekong, namun juga ada di Pesisir Balikpapan dan Sungai Malinau (Kaltim).

Petugas BKSDA di Malinau belum lama ini menemukan satwa sejenis Pesut Mahakam yang mati terluka akibat terkena baling-baling kapal di Sungai Malinau, wilayah utara Kaltim.

Penemuan bangkai Pesut Mahakam di Sungai Malinau merupakan hal sangat berarti bagi ilmu pengetahuan dan membawa harapan baru bagi upaya pelestarian satwa langka itu. Hal tersebut membuktikan Pesut Mahakam ternyata ada di belahan lain.

Satu lagi penemuan mengejutkan dunia, yakni beberapa peneliti satwa langka itu menemukan populasi Pesut Mahakam di Pesisir Balikpapan. Yang mengejutkan selain penemuan Pesut Mahakam juga berada di kawasan itu, yakni ekosistemnya bukan air tawar (sungai) namun air payau/laut (Yayasan Konservasi RASI, 2005).

Para peneliti yakin bahwa yang mereka temukan bukan lumba-lumba namun Pesut Mahakam. Cirinya, Pesut Mahakam bermoncong (berhidung) pendek, sedangkan lumba-lumba berbentuk botol atau panjang. Pesut Mahakam kini dianggap sebagai satwa yang paling terancam punah. IUCN (2002) telah memberikan status “Critically Endangared” (kritis terancam punah) pada jenis ini, sementara CITES telah menempatkannya pada “Appendix 1” yang berarti jenis ini tidak diperkenankan untuk diperdagangkan.

Kenyataannya, Pesut Mahakam tetap dibisniskan, yakni terus diburu di Sungai Mahakam untuk memenuhi permintaan Pengelola Taman Hiburan Ancol, sehingga lebih gampang melihat Pesut Mahakam di Jakarta ketimbang di habitat aslinya baik di Sungai Mahakam, Sungai Malinau maupun Pesisir Balikpapan.

Agaknya, perlu tindakan nyata pemerintah dalam menyelamatkan Pesut Mahakam saat legenda bukan lagi mantera sakti. Termasuk, mengalihkan dana-dana untuk membangun monumen dan patung megah Pesut Mahakam sebagai program penyelamatan melalui konservasi habitat satwa langka yang kondisinya kini seperti “meregang maut”.(Ant.)

Sumber: Antara sumber foto: http://www.deplujunior.org

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS