My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Kelestarian Terumbu Karang di Area “Coral Triangle” Terancam

28 Oktober
01:28 2011

Terumbu Karang (ilustrasi)

Jakarta – Pengambilan hasil laut yang berlebihan mengancam kelestarian Kawasan Coral Triangle yang merupakan kawasan dengan keanekaragaman kehidupan laut terlengkap di dunia.

Hal tersebut diungkapkan oleh Jurgen Freund dan Stella Chiu-Freund, Penulis dan fotografer buku The Coral Triangle yang baru saja diluncurkan di Jakarta.

Coral Triangle adalah wilayah seluas kurang lebih enam juta kilometer persegi yang terdiri dari daratan dan lautan yang meliputi enam negara yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste.

Keenam negara tersebut merupakan rumah bagi berbagai biota laut terlengkap di dunia sekaligus rumah bagi berbagai komunitas manusia dan sumber ekonomi yang penting.

Menurut Jurgen dan Stella, hal yang paling mengancam kelestarian Coral Triangle adalah pengambilan hasil laut secara berlebihan.

“Memang orang harus makan, tapi beri kesempatan ikan untuk bertelur dan berkembang biak,” kata Jurgen Freund.

Jurgen mencontohkan Australia yang berhasil menjaga kelestarian salah satu spesies ikannya.

“Sebagai contoh, ikan trout di Australia. Ketika mereka bertelur, kurang lebih pada November, Pemerintah Australia melarang pemancingan ketika waktu bertelur ikan tersebut sehingga memungkinkan adanya cukup telur dan anak ikan untuk berkembang di tahun berikutnya,” kata Jurgen.

Hal tersebut merupakan salah satu contoh usaha pemerintah menjaga kelestarian biota laut sekaligus menjaga ketahanan pangan masyarakatnya, kata Jurgen.

Stella mencontohkan satu pulau di Filipina yang bernama Pulau Green yang merupakan pulau kecil dengan jumlah penduduk sekitar 2000 orang.

Di pulau tersebut, penduduk menggantungkan kehidupannya dari hasil laut. Namun untuk memenuhi kebutuhan hidup, mau tidak mau mereka harus terus mengambil hasil laut dan kadang-kadang tanpa batas.

Hal ini yang menjadi tugas bagi masyarakat dan para pengambil keputusan, dalam hal ini adalah pemeritah, untuk bisa menjaga kelestarian kehidupan laut sekaligus menjaga ketahanan pangan masyarakatnya, kata Stella.

“Karena jika kehidupan laut itu hilang, dia akan musnah dan tidak akan bisa dikembalikan lagi,” kata Stella.

Sementara itu Kepala Program Coral Triangle WWF Dr. Linda Pet-Soede mengatakan tujuan dari Ekspedisi Coral Triangle adalah untuk mendemonstrasikan hubungan antara kehidupan alam liar dengan masyarakat di sekitarnya, ancaman yang mereka hadapi, dan rekan yang bekerjasama untuk membantu melindungi pusat keanekaragaman laut dunia.

“Kami ingin dunia untuk beranjak dan memperhatikan, sehingga kami menugaskan salah satu tim fotografi terbaik dunia untuk melakukan perjalanan yang menantang ini,” kata Pet-Soede.

Buku The Coral Triangle merupakan hasil kerja sama dari World Wildlife Fund for Nature (WWF), Asian Development Bank (ABD), Freund Factory, dan Coral Triangle Initiative (CTI)

Acara peluncuran buku tersebut dihadiri juga oleh enam menteri kelautan dari ke enam negara. Informasi lebih lanjut tentang buku the Coral Triangle bisa diakses di laman www.panda.org/coraltriangle/photobook. (Ant)

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS