My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Kawasan Konservasi Pulau Kaget Beralih Fungsi

11 Mei
18:00 2010
Kawasan Konservasi Pulau Kaget Beralih Fungsi

Banjarmasin – Sebagian kawasan konservasi hutan bakau Pulau Kaget, kini beralih fungsi menjadi lahan persawahan yang dibuka warga sekitar. Kawasan seluas 65 hektare tersebut sebagian besar menjadi lahan pertanian, sehingga pohon-pohon bakau yang dulunya tumbuh subur di daerah tersebut kini banyak yang hilang atau rusak.

“Hal ini membuat berbagai jenis flora dan fauna yang dulu hidup damai di daerah itu menghilang, karena tidak mendapatkan tempat untuk berlindung dan mencari makan,” papar Rakhmadi Kurdi Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kalimantan Selatan (Kalsel) di Banjarmasin, Selasa (11/5).

Mengatasi hal tersebut, sejak 2008 BLHD melakukan penanaman kembali areal bakau-bakau yang sudah rusak.

“Sampai saat ini kita telah menanam sekitar lima ribu pohon bakau dan kini telah berkembang cukup baik,” ujar Rakhmadi Kurdi.

Jumlah tersebut merupakan jumlah yang sangat kecil dibanding jumlah kerusakan bakau atau mangrove di seluruh wilayah Kalsel.

Karena jumlah bantuan pohon bakau untuk rehabilitasi kawasan pantai tersebut cukup sedikit,  akhirnya sejak 2008 penanaman yang dilakukan BLHD difokuskan pada Pulau Kaget.

“Hari ini kita juga kembali melakukan penanaman sebanyak seribu pohon di sepanjang pinggiran pantai,” katanya.

Dengan adanya penanaman kembali pohon bakau, kini beberapa hewan seperti bekantan mulai kembali ke daerah tersebut.

Sebagian daerah Pulau Bakut yang sebelumnya meranggas kini juga mulai kembali terlihat hijau dan mulai ada tanda-tanda kehidupan.

Menurut Rakhmadi, luas hutan mangrove yang berada di luar kawasan hutan di Kalsel mencapai 18.460 hektare. Dari luasan tersebut 2.750 hektare atau sekitar 15 persen rusak berat karena dimanfaatkan untuk kegiatan lain seperti tambak, bahan baku pembangunan rumah dan lainnya.

Kerusakan mangrove ini juga memicu kerusakan terumbu karang terutama yang berada di Kabupaten Tanah Laut, Kotabaru dan Tanah Bumbu.

Menurut Rakhamdi Kurdi luas terumbu karang di Kalsel mencapai 13 ribu hektare sedangkan 200 hektare mengalami kerusakan antara lain akibat sendimentasi dari aktivitas pertambangan batu bara. Sehingga kini banyak spisies diterumbu karang punah begitu juga dengan biota laut lainnya.

Rakhmadi Kurdi juga menjelaskan bahwa kondisi bawah laut dan terumbu karang di daerah Bunati Kabupaten Kotabaru cukup indah dan masih segar bahkan keindahannya mengalahkan Bunaken.

“Karena kurang terawat dan tidak ada promosi serta akses transportasi yang belum mendukung akhirnya potensi wisata tersebut belum bisa muncul ke permukaan,” katanya.(Ant)

1 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS