My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Indonesia Tetap Perlu Tambahan Kapal Selam

05 Januari
19:11 2009
Indonesia Tetap Perlu Tambahan Kapal Selam

Bintang Gerilja – Indosmarin.com
Jakarta
– Indonesia tetap memerlukan tambahan dua kapal selam sebagai alat pertahanan, selain dua kapal selam yang kini telah dimiliki yakni KRI Cakra-401 dan KRI Nanggala-402.

“Apalagi presiden sudah menyampaikan, bahwa kita minimal perlu dua kapal selam ke depan,” ungkap Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno usai memimpin upacara HUT ke-46 Korps Wanita Angkatan Laut (Kowal) di Jakarta, Senin (5/1)

Karena itu, tambah dia, Mabes TNI AL telah melakukan kajian mendalam untuk spesifikasi kapal selam yang dibutuhkan sesuai tingkat ancaman yang akan dihadapi.

“Hasil kajian berupa spesifikasi teknik (spektek) dan operation requirement/opsreq (kebutuhan operasi) kepada Departemen Pertahanan (dephan) untuk kemudian ditentukan dari negara mana kapal selam itu diadakan. Jadi, kita tidak mengajukan merk atau negara mana. Hanya spektek dan opsreq. Dari negara mana, bukan masalah yang penting kemampuan tempurnya,” ujarnya kepada Antara.

Namun demikian, untuk pengadaan kapal selam TNI AL ada beberapa negara yang menjadi pilihan seperti Jerman (U-209), Korea Selatan (Changbogo), Rusia (Kelas Kilo), dan Perancis (Scorpen).

Kasal menegaskan, semua pengadaan alat utama sistem senjata termasuk kapal selam masih digodok di Dephan termasuk apakah pengadaannya dipercepat atau ditunda hingga masuk rencana strategis (renstra) 2010-2014.

Tim kajian Mabes TNI AL telah menyusun spesifikasi teknik sejumlah peralatan persenjataan yang akan diajukan dengan sisa anggaran KE 2005-2009, yakni tank amfibi BMP-3F, kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) dan satu unit kapal selam. Untuk tank BMP-3F sudah selesai prosesnya, dan ditetapkan negara produsennya dari Rusia sebanyak 17 unit sedangkan untuk PKR dan kapal selam, masih dalam proses.

“Kita tidak keberatan kalau pun harus dimundurkan kontraknya. Toh kita masih memiliki dua kapal selam. Tetapi kita tetap komitmen agar pengadaan kapal selam ini dapat diteruskan. Dan lagi kalau pun kontraknya ditandatangani sekarang, baru bisa tiga tahun lagi dimulai prosesnya. Jadi gak masalah, meski tetap akan kita adakan,” ujarnya.

Sebelumnya, Dirjen Sarana Pertahanan Dephan Marsda Eris Herryanto mengatakan, pengadaan kapal selam dikaji ulang karena pembangunan sarana pendukung kapal bawah air itu sangat mahal. Diperkirakan mencapai 20 persen dari harga kapal selam. Artinya, dengan harga minimal Rp3,5 triliun setidaknya dibutuhkan tambahan Rp700 miliar.(Ant.)

foto: istimewa

3 Komentar

  1. Faletehan
    Faletehan Januari 10, 19:04

    Terlalu rumit dan bertele-tele !!!. Apabila Pemerintah RI (Dephan) menginginkan Negara RI dihormati dan dihargai oleh negara-negara lain, segera perkuat dan perbarui alutsista kita. Pada saat ini kekuatan militer adalah alat diplomasi terunggul. Kita dapat merenegosiasi ulang banyak kontrak karya pertambangan yang merugikan negara RI hanya jika kekuatan militer kita kuat.
    Jadi jangan ragu mengambil keputusan untuk pengadaan alutsista baru bagi TNI. Kami rakyat akan mendukung asalkan dilakukan secara transparan.

  2. Andi
    Andi Agustus 26, 01:54

    KRI Nanggala 401 Kemana, setahu saya KRI Nanggala 401 adalah Kapal selam Indonesia yang dibawa dari Polandia pada Tahun 1962 oleh Abang saya.

  3. pebruantoni
    pebruantoni September 10, 13:13

    indonesia memang harus memiliki setidaknya 2 lusin kapal selam untuk menjaga perairannya dari sabang sampai maroke, dan menjaga kekayaan alam laut indonesia agar tidak dicuri lagi oleh negara malingsial

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS