My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Gubernur NTT Usulkan Laut Sawu Sebagai Kawasan Konservasi

27 April
14:47 2009
Gubernur NTT Usulkan Laut Sawu Sebagai Kawasan Konservasi

Jakarta – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengusulkan pencadangan perairan Laut Sawu sebagai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN). Usulan ini merupakan realisasi dari tindak lanjut program nasional tentang pencadangan Kawasan Konservasi Perairan seluas 10 juta Hektar pada tahun 2010 yang telah disampaikan Presiden RI pada Konferensi Intenasional “Convention on Biological Biodifast” di Brasil pada Maret 2006.

Dalam siaran persnya yang diterima Indosmarin.com, Kepala Pusat Data, Statistik dan Informasi, Departemen Kelautan dan Perikanan Soen’an H. Poernomo, mengatakan bahwa usulan ini berdasarkan pada hasil kajian dan rekomendasi Tim Pengkajian dan Penetapan Kawasan Konservasi Laut (TPP KKL) Laut Sawu, Solor Lembata Alor (SOLAR).

“Dalam kajian tersebut telah dipertimbangkan mengenai kekayaan dan keanekaragaman jenis biota dan sumberdaya di perairan laut Sawu, serta keunikan habitat dan karakeristik oceanografi yang dimilikinya.” papar Soen’an.

Selain itu, dipertimbangkan pula kepentingan Laut Sawu secara lokal, nasional dan internasional, serta Keterikatan tradisi dan budaya masyarakat lokal dengan sumberdaya perairan.

Soen’an juga menjelaskan bahwa faktor lain yang dipertimbangkan adalah adanya ketergantungan masyarakat lokal dan pemerintah daerah terhadap sumberdaya di perairan Laut Sawu, serta kerentangan dan ancaman terhadap ekosistem dan sumberdaya di wilayah pesisir dan perairan tersebut.

“Hal penting terkait penetapan dan pengelolaan Laut Sawu adalah untuk melindungi keanekaragaman hayati bagi pengelolaan perikanan yang berkelanjutan sehingga memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Untuk pengelolaannya, dilakukan dengan system zonasi yang mengakomodasi berbagai kepentingan, dan pendekatan kolaboratif serta adaptif yang melibatkan berbagai pihak.” jelas Soen’an.

Selain itu, perairan Laut Sawu sebagai Kawasan Konservasi Perairan Nasional harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat demi peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan memperhatikan serta mengakomodasi kepentingan nelayan tradisional dan kearifan lokal masyarakat pesisir. Dalam implementasinya, yang paling mendasar adalah penetapan tata ruang pesisir dan perairan yang tepat, serta keikutsertaan masyarakat dalam mewujudkan gagasan yang positif ini.

Untuk diketahui, kawasan ini memiliki luas sekitar 3,5 juta ha atau 3.521.130,01 hektar yang meliputi wilayah 2 (dua) zonasi yaitu Zona Perairan Selat Sumba, dan Zona Perairan Tirosa-Batek. Secara rinci berdasarkan Zona Sawu perairan Selat Sumba seluas 567.165,44 Ha berada pada wilayah meliputi 6 (enam) Kabupaten yaitu Sumba Timur, Sumba Barat, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya, Manggarai dan Manggarai Barat. Zona perairan Tirosa-Batek seluas 2.953.964,37 Ha berada pada wilayah meliputi 4 (empat) Kabupaten yaitu Sumba Timur, Rote Ndao, Kupang, dan Kota Kupang, serta Timor Tengah Selatan.(Gen)

1 Komentar

  1. max umbu
    max umbu Mei 12, 13:55

    SUDAH SAATNYA NTT MENGHADAP KELAUT bukan
    MEMBELAKANGI LAUT

    Ide dan usul Pencadangan perairan Laut Sawu sebagai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) yang jelas bukan asalan,tapi jauh dari pada itu untuk menata laut Sawu agar di masa datang akan dapat menjadi SUMBER hidup bagi petani nelayan/ Sehingga laut Sawu bukan sekedar CADANG atau dibangku cadangkan sebagai salah satu potensi besar ekonomi keseharian masyaratkat NTT.

    Posisi laut Sawu yang Strategis sungguh FITAL bagi masyarakat NTT,dan poptensi Fital ini akan dapat saja menjelma menjadi potensi yang FATAL bila usaha konservasinya tidak diperhatikan. Posisi STRATEGIS dapat pula menjadi posisi yang TRAGIS bila tidak di kelola baik. Laut satu adalah HALAMAN BELAKANG Negara Indonesia. Pintu masuk dan keluarnya arus air laut dari samudra Indonesia semakin memberi arti pentingnya kawasan yang telah sejak lama di terlantarkan ini. Laut sawu tidak sekedar hanya mengandung nilai Politis naum lebih jauh mengandung nilai ekonomis,budaya serta pertahanan keamanan negara di laut.

    Potensi laut sawu semakin menemukan bentuk nya ketikan ide ini teradopsi dalam program nasional tentang pencadangan Kawasan Konservasi Perairan seluas 10 juta Hektar pada tahun 2010 yang telah disampaikan Presiden RI pada Konferensi Intenasional “Convention on Biological Biodifast” di Brasil pada Maret 2006.

    Hasil kajian yang memberi isyarat positif aakn potensi dasar laut Sawu mengenai kekayaan dan keanekaragaman jenis biota dan sumberdaya di perairan laut Sawu, serta keunikan habitat dan karakeristik oceanografi yang dimilikinya, memastikan kalau program ini tepat sasaran.sasaran jangka pendek dan panjang yang sistematis memberikan harapan.

    Ketergantungan masyarakat lokal dan pemerintah daerah terhadap sumberdaya di perairan Laut Sawu, serta kerentangan dan ancaman terhadap ekosistem dan sumberdaya di wilayah pesisir dan perairan tersebut, harus menjadi stimulator bagi semua stakeholder di NTT dan di tingkat Nasional. Sinyal positif ini pulalah yang akan memberikan gaung bagi komunitas dan pemerhati laut internasional untuk sesegeramungkin mendukung dan mendeking program ini. Semua stakeholder harus mampu berpikir dalam kotak dan bertindak di luar kotak, bertumbuh ke atas bertambah kedalam.

    Oleh
    MAX UMBU

    implementasinya, yang paling mendasar adalah penetapan tata ruang pesisir dan perairan yang tepat, serta keikutsertaan masyarakat dalam mewujudkan gagasan yang positif ini.

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS