My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Greenpeace Kecewa Atas Sikap Kemenlu Tak Keluarkan Ijin Bagi Rainbow Warrior

18 Oktober
09:07 2010
Greenpeace Kecewa Atas Sikap Kemenlu Tak Keluarkan Ijin Bagi Rainbow Warrior

Rainbow Warrior

Jakarta Greenpeace Asia Tenggara, Senin (18/10) meminta pertemuan resmi dengan Kementrian Luar Negeri guna melakukan klarifikasi mengenai penundaan ijin masuk kapal kampanye MV. Rainbow Warrior, untuk memasuki perairan Indonesia.

Kapal utama Greenpeace ini dijadwalkan merapat ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta pada 13 Oktober yang lalu, namun karena keterlambatan memperoleh ijin akhirnya Rainbow Warrior tidak dapat memasuki perairan Indonesia.

Sementara sejumlah media nasional dan luar negeri menyebutkan bahwa pejabat Kementrian Luar Negeri tidak akan memberi ijin kepada MV. Rainbow Warrior.

Rainbow Warrior saat ini berlayar di wilayah Asia Tenggara sebagai bagian dari Kunjungan “Balikkan Arus” yang membawa pesan harapan dan menyerukan tindakan kepada semua pemerintahan negara-negara ASEAN. Asia Tenggara adalah salah satu negara paling rentan dan yang paling tidak siap dalam menghadapi akibat perubahan iklim.

“Kapal kami sedang dalam misinya selama dua setengah bulan mengelilingi Asia Tenggara untuk mempromosikan pembangunan hijau. Hanya ini agenda kami. Semua negara menginginkan masa depan yang berkelanjutan demi generasi mendatangnya. Kami percara Indonesia tidak berbeda. Karena ini penundaan ini sangat mengherankan bagi kami, karena sampai sekarang, kami masih menunggu komunikasi resmi dari Kementrian Luar Negeri apakah mereka akan memberi ijin bagi Rainbow Warrior memasuki Indonesia,” jelas Nur Hidayati mewakili Greenpeace Asia Tenggara.

“Bila kapal ini ditolak masuk, ini akan merupakan bagian sedih dari sejarah Rainbow Warrior yang berumur 21 tahun. Kapal ini telah menghadapi sistem hukum dan memenangkannya, ia juga telah memerangi kejahatan lingkungan, merelokasi masyarakat pulau di Pasifik Selatan yang terkontaminasi radiasi, memberikan bantuan kepada korban tsunami tahun 2004 di Asia Tenggara dan berlayar untuk menentang kejahatan perburuan paus, perang, pemanasan global dan kejahatan lingkungan lainnya di semua lautan di dunia dan dicintai oleh jutaan orang,” imbuh perempuan yang akrab dipanggil Yaya.

Sementara, Greenpeace Asia Tenggara meneruskan kegiatan yang dijadwalkan yang seharusnya menjadi bagian dari kegiatan bersama kapal ini di Indonesia.

Pada Kamis (14/10) pekan lalu, Greenpeace, WALHI dan beberapa organisasi masyarakat sipil lainnya meluncurkan “Platform Bersama untuk Menyelamatkan Hutan Indonesia untuk Melindungi Iklim Global” dalam sebuah lokakarya REDD (Menurunkan Emisi dari Kerusakan Hutan dan Deforestasi atau Reducing Emissions from Forest Degradation and Deforestation).(GP/Gen).

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS