My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Geliat Lesser Sunda untuk Dunia (2)

 Breaking News
15 April
21:15 2015
Geliat Lesser Sunda untuk Dunia (2)

Jakarta – Keistimewaan yang dimiliki perairan tercipta dari kombinasi arus kuat dari arus lintas Indonesia (Arlindo) dan tebing laut yang curam yang mempertemukan arus air dingin dari utara dan hangat dari selatan menjadikan perairan ini tangguh menghadapi ancaman peningkatan suhu gobal akibat perubahan iklim.

Kemampuan perairan ini untuk pulih saat menghadapi ancaman kerusakan akibat peningkatan suhu air laut cukup tinggi, sehingga menurut Conservation Science Specialist TNC Indonesia Marine Program, Purwanto, perairan seperti ini sangat tepat dikembangkan menjadi sebuah Kawasan Konservasi Laut (KKL).

Purwanto mengatakan daerah tropis jelas memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi termasuk di wilayah perairan.

Dengan suhu yang relatif hangat antara 25 hingga 29 derajat Celsius serta arus laut yang kompleks yang menghasilkan nutrisi tinggi bagi biota laut membuat perairan Lesser Sunda kaya sumber daya ikan.

Namun, menurut dia, tantangan yang harus dihadapi juga cukup pelik karena usaha manusia untuk pemenuhan kebutuhan pangan yang dapat mengancam kepunahan jenis dan spesies biota laut di perairan tersebut.

“Tantangannya, karena kebutuhan pangan tinggi maka ancaman kepunahan juga tinggi”.

Untuk saat ini, ia mengatakan memang belum ada data lengkap yang dapat menyebutkan telah terjadi penangkapan ikan berlebih di perairan Indonesia, termasuk di Lesser Sunda.

Namun, krisis perikanan tangkap global sedang terjadi, di mana terjadi penurunan suplai ikan per kapita, terjadi stagnasi jumlah tangkapan, dan mulai menghilangnya spesies tertentu secara sekuensial dari tangkapan.

Saat ini, lanjut Purwanto, yang berperan dalam melakukan penangkapan ikan secara berlebih di Indonesia adalah industri perikanan skala besar dan nelayan skala kecil, baik yang berbendera asing ataupun lokal.

Metode penangkapan juga dilakukan dari yang legal maupun secara ilegal yang bersifat destruktif seperti penggunaan bom dan racun.

Selain karena pertambahan penduduk yang memicu peningkatan kebutuhan pangan, menurut dia, akses sumber daya yang terbuka dan gagalnya sistem manajemen perikanan konvensional yang lebih mengutamakan pembatasan kuota tangkap, izin tangkap, dan alat tangkap menjadi penyebab terjadinya penangkapan ikan berlebih.

“Kesalahan terbesar metode perikanan selama ini karena beranggapan statistik hasil tangkap menunjukkan status stok ikan,” ujar dia.

Isu lain yang menjadi ancaman bagi perairan adalah pembangunan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi secara tidak berkelanjutan.

Conservation Project Manager TNC Indonesia Marine Program Mirza Pedju mengatakan peningkatan aktivitas transportasi laut yang dapat menjadi polusi suara di dalam laut juga menjadi ancaman bagi mamalia laut.

Direktur Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan Ditjen Kelautan, Pesisir, Pulau-Pulau Kecil (KP3K) KKP Agus Dermawan mengatakan salah satu penyebab terdamparnya paus karena adanya gangguan polusi suara di dalam laut seperti peledakan bahan dinamit, pelayaran kapal selam dengan menggunakan sonar dan navigasi sehingga menyebabkan disorientasi pada hewan mamalia ini.

Aktivitas perusahaan minyak dan gas di perairan Lesser Sunda juga dapat memicu polusi suara dan mengganggu biota laut harus diperhatikan.

Enam tahun setelah enam pimpinan negara CT-6 mendeklarasikan penyelamatan Segitiga Terumbu Karang dunia di Manado, menurut Agus, sudah ada 36 Kawasan Konservasi Laut (KKL) di ekoregion Lesser Sunda, dengan  luas area 4.826.569 sekitar 4.826.569  ha.

Untuk kawasan Bali terdapat lima KKL yang berada di Pemuteran, Bondalem, Penuktukan, Nusa Penida, dan Balai Taman Nasional Bali Barat dengan total luas area mencapai 58.006,94 ha.

Sedangkan di NTB terdapat 16 KKL dengan total luas area mencapai 200.350,80 ha, dan di NTT terdapat 15 KKL dengan total luas area mencapai 4.568.2124.568.212,05 ha.

Jejaring konservasi dalam satu ekoregion, menurut Mirza, menjadi strategi untuk menguatkan ekosistem perairan terhadap perubahan iklim dan mengurangi tekanan yang diakibatkan oleh ancaman manusia.

“TNC juga telah mengusulkan beberapa daerah menjadi KKL. Namun beberapa masih perlu penelitian dan kajian lapangan untuk dapat menaikkan status kawasan tersebut sebagai KKL”.

Konservasi 30 persen meliputi habitat laut dangkal. Yang kurang di laut dalam atau di ekosistem pelagik.

“Kita belum punya ekosistem perlindungannya, padahal perlindungan untuk laut dalam juga diperlukan mengingat terdapat sea moun yang juga kaya,” ujar dia.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa kerja sama sektoral dengan berbagai pemangku kepentingan termasuk dengan pemda dan sektor minyak dan gas di Lesser Sunda harus dilakukan guna memastikan unsur keberlanjutan dalam setiap aktivitas yang berkaitan dengan perairan tetap dapat dilakukan.

Berdasarkan kajian TNC, menurut Lesser Sunda Portofolio Manager TNC Glaudy Perdanahardja, ada 100 area di ekoregion tersebut yang potensial untuk dijadikan jejaring KKL, dengan total luas kawasan mencapai lebih kurang 9.864.045 ha.

“Luasannya memang mungkin bisa berbeda untuk saat ini karena TNC mulai melakukan kajian sejak 2012. Jadi kemungkinan luasan wilayah berubah bisa terjadi karena luasan tata ruang satu daerah mungkin juga ada yang berubah,” ujar dia.

Sesuai dengan komitmen Indonesia yang menargetkan penetapan 20 juta ha KKL di 2020 sebagai upaya penyelamatan Segitiga Terumbu Karang, perikanan, dan keamanan pangan dunia di masa depan maka penguatan ekosistem perairan dengan “merapatkan” jejaring KKL di setiap ekoregion termasuk di Lesser Sunda, wilayah perairan kaya yang menjadi pemasok terbesar tuna ke berbagai negara di dunia.

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *