My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Enam Nelayan Negara-negara ASEAN Aktif Mencuri Ikan di Indonesia

19 Maret
22:53 2011
Enam Nelayan Negara-negara ASEAN Aktif Mencuri Ikan di Indonesia

ASEAN

Pontianak – Dalam kurun waktu 15 tahun terakhir, nelayan dari enam negara anggota ASEAN melakukan pencurian ikan di perairan Indonesia.

“Keenam negara dimaksud, meliputi Thailand, Filipina, Vietnam, Malaysia, Kamboja dan Myanmar,” papar Riza Damanik, di Pontianak, saat menjadi pembicara dalam Lokakarya Membangun Strategi Advokasi Masyarakat Sipil Indonesia untuk Mewujudkan ASEAN yang berpusat pada rakyat menuju komunitas global, Sabtu (19/3).

Riza Damanik mengatakan, Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 2010 mengungkap fakta statistik kecenderungan penangkapan ikan ilegal di perairan Indonesia cenderung positif.

Sementara itu, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) pada 2004 memperkirakan jumlah ikan yang hilang akibat pencurian di Indonesia, mencapai dua ton per tahun.

“Dari jumlah itu diperkirakan negara mengalami kerugian mencapai Rp30 triliun per tahun,” katanya.

Menurut Riza, diperkirakan pemerintah gagal memperoleh sedikitnya Rp50 triliun dari sektor pungutan perikanan, sebagaimana disyaratkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2006 tentang Pendapatan Negara Bukan Pajak.

Padahal, menurut Riza Damanik, Indonesia sangat tergantung kepada nelayan tradisional. Sekitar 91,8 persen atau lebih dari 548 ribu pada tahun 2009 armada perikanan Indonesia adalah kurang dari 5 Gros Ton atau berdasarkan UU Nomor 45/2009 disebut nelayan kecil.

Kemudian 92 persen dari tangkapan ikan nelayan tradisional adalah untuk pemenuhan kebutuhan domestik. Lebih dari dua juta kepala keluarga menggantungkan hidup dan penghidupannya pada perikanan tradisional.

Adapun konsumsi ikan Indonesia terus meningkat. Ia menilai, dari sebelumnya kurang dari 20 kilogram per kapita pada 1998, menjadi 30,47 kilogram per kapita pada 2010. Dan ditargetkan menjadi 40,25 kilogram per kapita pada 2014.

Pada kenyataannya, Indonesia telah menjadi sasaran pencurian ikan oleh negara-negara sesama anggota ASEAN.

Menurut Riza Damanik, ada beberapa negara anggota ASEAN yang selalu memprotes kesalahan Indonesia. Namun ketika Indonesia balik memprotes sikap negara tersebut, termasuk di antaranya kasus pencurian ikan, mereka cenderung diam.

Sementara itu cuaca ekstrem menurut Riza Damanik telah menurunkan frekuensi melaut nelayan, menjadi hanya 160-180 hari per tahun.

“Dalam kondisi perairan yang sepi potensial meningkatkan pencurian ikan,” katanya.

Berkaitan dengan itu, upaya yang sudah ditempuh Kiara antara lain membangun sinergi advokasi masyarakat sipil untuk keadilan perikanan di Asia Tenggara dengan “Southeast Asian Fish for Justice” (SEAFish).

Selain itu, Kiara juga membangun penguatkan organisasi nelayan di Asia Tenggara dengan “Southeast Asian Fisheries Alliance” (SEAFA).(Ant)

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS