My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Dunia Bawah Laut, Kenapa Kita Menyelam?* (bagian 1)

12 Mei
20:03 2008
Dunia Bawah Laut, Kenapa Kita Menyelam?* (bagian 1)

Oleh: Mohammad Farish**

Tuhan, Manusia dan Alam

Manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling tinggi derajatnya karena dibekali oleh-Nya dengan akal budi. Dengan budayanya manusia menyebar ke seluruh penjuru dunia, mulai dengan peralatan batu sederhana untuk memotong daging buruannya hingga teknologi informasi tercanggih abad 20 yang konon kecepatannya bertambah dua kali lipat tiap delapan belas bulannya. Salah satu senjata yang diberikan Tuhan kepada manusia adalah rasa ingin tahu dan tak pernah puas pada satu hal saja.

Selain rasa ingin tahu akan apa yang ada di puncak gunung, di tengah hutan belantara, di perut bumi, di tengah-tengah padang pasir, manusia juga tergelitik rasa ingin tahunya akan apa yang terkandung di dalam samudera luas tanpa batas. Semuanya tak lain adalah untuk lebih menghayati kebesaran Tuhan dan mensyukuri nikmat yang telah diberikan-Nya.

Untuk Apa Sih Kita Menyelam?

Berbicara mengenai alam dan kehidupan bawah laut, sebenarnya bagi banyak orang masih merupakan sesuatu yang penuh misteri. Petualangan pada umumnya adalah hobby yang “sunyi”. Mendaki gunung, memanjat tebing, menelusuri gua, menembus pedalaman belantara, semuanya itu aktifitas yang sepi, jauh dari hiruk pikuk peradaban manusia.

Saat bertualang jangan harap kita bisa menemukan mall atau bisa dugem . Wong , ketemu Puskesmas atau warung aja kita sudah senang banget! Nah, menyelam itu “lebih sunyi” daripada mendaki gunung, di mana saat mendaki gunung kita masih dapat berbicara dengan partner pendakian kita.

Saat menyelam, yang kita temui hanyalah gerakan kehidupan lain di bawah air. Gerakan pasir dan tumbuhan laut yang terombang-ambing arus bawah air, gerombolan ikan yang lalu-lalang di sekitar kita dan bermacam-macam bentuk makhluk laut lain dengan warna alam sekitarnya yang semakin dalam semakin kebiruan. Semuanya membisu dan bak di negeri dongeng. Tanda adanya peradaban manusia, hanyalah suara tarikan udara dari second stage regulator kita dan hembusannya disertai gelembung-gelembung udara ke permukaan. Lha , terus untuk apa dong kita menyelam?

Mungkin banyak dari kita yang belum sadar, bahwa bumi kita ini terdiri dari lebih kurang 71% lautan dan 29% daratan. Bila nenek moyang kita di zaman baheula telah mengetahui fakta ini, mungkin planet tempat kita hidup ini tidak dinamakannya “bumi atau earth ” yang berarti tanah, melainkan dinamakannya “samudera atau ocean ”.

Sesungguhnya lautan kita memang luar biasa. Seluruh lautan berisi lebih kurang 1.375 juta kilometer kubik air sedangkan banyaknya tanah di atas permukaan laut hanya 1/18 dari jumlah itu! (Bayangkan saja semua daratan di bumi – termasuk dataran rendah, dataran tinggi, bukit, gunung dikeruk dan dijadikan satu. Volumenya masih kalah jauh dibandingkan dengan air samudera seluruh dunia dikumpulkan satu!)

Kedalaman Palung Mariana di Pasifik Barat mencapai 11.035 meter di bawah permukaan laut sehingga bila Gunung Everest (8.848 m dpl) dimasukkan ke dalamnya maka puncak gunung tersebut masih berada lebih dari 2.000 meter di bawah permukaan laut! Di dasar Samudera Pasifik terdapat barisan pegunungan yang membentang sepanjang 75.600 kilometer, lebih dari 30 kali panjang barisan pegunungan Bukit Barisan di Sumatera Utara dan dinamakan Pematang Tengah Samudera .

Palung-palung yang terdapat di dasar laut-pun ada yang berukuran luar biasa seperti Palung Tonga Kermandec di Pasifik Barat yang panjangnya mencapai 2.575 kilometer dan kedalamannya mencapai 10.630 meter. Palung ini cukup memuat enam buah Grand Canyon di Arizona. Lebih menakjubkan lagi adalah hampir di semua kedalaman laut itu terdapat bentuk kehidupan! Seperti di dasar Palung Mariana, kapal selam Bathyschape Trieste pada penelitian tahun 1960 menemukan kehidupan berupa ikan berbentuk gepeng dan udang kecil, padahal di tempat tersebut tekanan air lautnya 1000 kali lipat tekanan udara di tempat kamu baca artikel ini!! (Sumber: Amir Sjarifuddin, 1990).

Dari segudang fakta di atas, masa’ sih tidak tergerak diniat kita secuil pun untuk mencoba, mendatangi, melihat, mengeksplorasi sebagian kecil saja isi perut samudera, sebelum kita mati? Mumpung kita masih muda, masih sehat, dan satu hal lagi: Tuhan menganugerahkan kita tanah air yang “kuaayaa ” (bukan kaya, tapi kuaayaa..! ) dengan semua potensi bawah lautnya. Jangan kita terus-terusan disalip orang bule mancanegara soal kekayaaan bawah laut milik kita sendiri. Siapa lagi yang akan menjaga harta kekayaan kita dari incaran maling-maling kalau bukan kita sendiri? Tul nggak Bro ?

Manusia menyelam karena bermacam-macam motivasi. Ada yang untuk mencari nafkah (seperti penyelam mutiara, pencarian harta karun, pembuatan film, dll), kepentingan militer (underwater demolition , reconnaisance , intelligence , combat frogman, dll), Search and Rescue , penelitian ilmiah (marine biology , geology , underwater archaeology , dll), penyelaman komersial (pengelasan dan perawatan bagian dasar kapal, pengeboran minyak dasar laut, dll), serta penyelaman rekreasional. Sebagian besar bahan diskusi kita ke depan akan mengacu pada kegiatan penyelaman SCUBA, yang diperuntukkan bagi aktifitas rekreasional. (Bersambung…)

* Artikel ini merupakan bagian dari diktat “Pengantar Scuba u’ Underwater Archaeology” & diktat “Materi Selam Tingkat Dasar Mapala “WD” Unud”.

** Instruktur Selam Mapala “Wanaprastha Dharma” Universitas Udayana. Saat ini bekerja sebagai staf pengajar di Bali International Diving Professionals. Ikut mengajar mata kuliah Arkeologi Maritim di Jurusan Arkeologi FS Unud.

Tags
Share
Subscribe via RSS