My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Data Spasial Kelautan untuk Menyukseskan Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia

 Breaking News
22 Desember
04:07 2016
Data Spasial Kelautan untuk Menyukseskan Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia

Oleh: Lucky Sitorus*

Tingkat apresiasi dan kewaspadaan dapat dibentuk melalui pengetahuan. Data spasial sangat penting sebagai alat komunikasi untuk menyediakan informasi visual bagi masyarakat sehingga informasi lebih mudah ditangkap dan dipahami, dan masyarakat akan lebih tertarik untuk terlibat. Keterlibatan masyarakat adalah awal dari sebuah gerakan massive membangun budaya maritim. Berbudaya maritim berarti menyadari sepenuhnya bahwa kita adalah bangsa yang tinggal di wilayah kelautan, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelestarian alam laut kita, sekaligus berhak memanfaatkannya dalam proses yang berkesinambungan, dan berkewajiban untuk sama-sama melindungi dan mengawasi laut dan pantai kita dari praktik-praktik merusak.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia sudah seyogyanya lebih lagi memerhatikan pertumbuhan kelautannya. Tujuh belas ribuan pulau-pulau berjajar membentuk zamrud-zamrud di khatulistiwa, alangkah indahnya jika teknologi dan infrastruktur kita bukan lagi menjadi penghalang konektifitas antar pulau dan antar penduduk. Penyebaran kegiatan perekonomian semakin merata; informasi, pendidikan dan kebudayaan semakin mudah diakses; pada akhirnya kesatuan dan persatuan bangsa lebih lagi terpupuk. Ketika laut menjadi hal sehari-hari yang kita lihat dan bicarakan, ia bukan lagi hal yang perlu ditakuti namun menjadi hal yang perlu kita terima dan refleksikan sebagai karakter geografis dan budaya bangsa sekaligus potensi yang harus kita jaga, manfaatkan dan wariskan kepada generasi-generasi bangsa selanjutnya.

Kira kira perbandingan lautan dan daratan di dunia sama dengan perbandingan lautan dan daratan di Indonesia, 70:30. Gembar-gembor dunia bahwa planet kita lebih layak disebut sebagai Planet Ocean dan bukan Planet Earth bukan tanpa sebab. Lautan bukan hanya menjadi sumber utama penghidupan bagi khususnya penduduk pantai dan sumber protein bagi sejumlah besar orang, laut juga sangat berkaitan erat dengan perubahan iklim dan cuaca; nilai estetika, budaya dan edukasi; serta habitat bagi biota laut dan pantai.

Hal ini sejalan dengan 5 pilar masa pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam membangun Indonesia sebagai poros maritim dunia, yaitu:

  1. Memprioritaskan pengembangan infrastruktur dan konektifitas maritim,
  2. Membangun budaya maritim Indonesia,
  3. Menjaga dan mengelola sumber daya laut,
  4. Membangun kekuatan pertahanan maritim, dan
  5. Mengembangkan diplomasi maritim.

Menjadi poros maritim dunia bukanlah hal yang main-main. Lima pilar di atas menjadi dasar bagi penyusunan rencana strategis dalam menuju visi kemaritiman Indonesia. Dengan terlebih dulu memperkuat budaya, kesatuan, dan pengenalan akan jati diri sebagai bangsa maritim maka Indonesia sebagai poros maritim yang diakui dunia akan dapat terwujud.

Kenyataan bahwa Laut Indonesia menyimpan kekayaan yang luar biasa tidak bisa disangkal. Lebih dari 70% dari potensi perikanan Indonesia belum dimanfaatkan dan masih tersedia 98% lahan potensial budidaya perikanan yang belum dimanfaatkan (BIG, 2015). Kekayaan habitat laut Indonesia, seperti mangrove, padang lamun dan terumbu karang menjadikan laut Indonesia menjadi tempat bertelur, bertumbuh, dan berlindung bagi biota laut yang saat  beranjak dewasa mungkin akan bermigrasi ke wilayah lain di luar kawasan laut Indonesia (Yudono, 2015)[1]. Menteri KKP Susi Pudjiastuti juga mengatakan bahwa 70 persen terumbu karang di Indonesia telah rusak akibat penggunaan bom, potassium dan sampah (Tempo, 2015)[2]. Keberadaan Illegal, Unregulated dan Unreported Fishing (IUU) – yang mana 30% dari IUU di dunia terjadi di Indonesia – terhitung menyebabkan kerugian mencapaiUSD 25 Milyar per tahun (BIG, 2015). Begitu pula dengan Mangrove, data dari Food and Agriculture Organisation (FAO) mengatakan bahwa selama rentang waktu 20 tahun (1980-2000) Indonesia telah kehilangan lebih dari 30% lahan hutan bakaunya.

Jika masyarakat lokal dan para pemangku kepentingan tetap tak acuh terhadap kondisi ini maka kerusakan habitat akan terus meningkat, keanekaragaman hayati laut menurun, produktifitas laut Indonesia juga akan semakin terancam dan semakin sulit untuk dipulihakan. Begitu pula kerentanan akan bencana laut akan semakin tinggi karena rusaknya ekosistem laut dan pantai, yang seharusnya dapat menjadi perisai yang berfungsi untuk meredam daya hancur akibat gelombang besar.

Data spasial tematik memberikan informasi-informasi, tidak hanya penggunaan spasial laut, melainkan juga kekayaan dan kerentanan habitat laut secara lokal dan terbuka untuk digunakan bersama baik oleh pemerintah, masyarakat, maupun pihak industri sehingga keputusan-keputusan lebih mudah diambil, dan bersifat terbuka, dan keterlibatan masyarakat lokal dapat dijamin; tingkat kewaspadaan terhadap bencana semakin terbentuk; dan jati diri bangsa sebagai bagian dari negara kepulauan bukan lagi milik beberapa orang saja

 

*Penulis adalah Sarjana Teknik Sipil dan baru selesai mengikuti Program Erasmus Mundus, Master in Maritime Spatial Planning.

catatan:

[1] http://ppiuk.org/indonesian-maritime-open-data-merupakan-kunci-penguatan-jati-diri-indonesia-sebagai-negara-maritim-yang-disegani-dunia/. Online. [diakses pada tanggal 24 Oktober 2016].

[2] https://bisnis.tempo.co/read/news/2015/08/10/090690443/menteri-susi-70-persen-terumbu-karang-di-indonesia-rusak. Online. [diakses pada tanggal 24 Oktober 2016].

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *