My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

CTC: Banyaknya Wisatawan Picu Kekhawatiran Rusaknya Lingkungan Bawah Air

 Breaking News
01 Juni
19:57 2016
CTC: Banyaknya Wisatawan Picu Kekhawatiran Rusaknya Lingkungan Bawah Air

Nusa Penida – Hasil survey yang dilakukan oleh CTC, bekerjasama dengan Universitas Brawijaya dan Pemerintah Kabupaten Klungkung pada tahun 2011 menunjukkan bahwa wisatawan yang datang ke Nusa Penida lebih banyak melakukan fun dive ke dive site Crystal Bay dan Manta Point daripada ke situs menyelam lainnya. Tidak hanya itu saja bahkan ada beberapa wisatawan juga mengambil kursus menyelam di Nusa Penida.

Tarif menyelam dengan menggunakan pemandu berkisar antara Rp. 437.500 hingga Rp. 700.000 untuk satu kali penyelaman. Tiap operator selam menerima jumlah wisatawan pada saat masa padat pengunjung sangat beragam mulai dari 50 orang per bulannya hingga 1200 orang. Pada saat low seasion jumlah wisatawan yang datang menurun, tiap operator menyelam menerima jumlah tamu yang sangat beragam mulai dari 15 orang per bulannya hingga 450 orang.

Hasil survey juga menunjukkan jumlah wisatawan yang datang pada saat high season adalah 2700 orang tiap bulannya. Para penyelam tersebut datang ke Nusa Penida ingin melihat keindahan bawah laut Nusa Penida, Ikan Pari manta dan sang raja bawah laut Nusa Penida yaitu ikan Mola mola. Sementara saat low season jumlah penyelam yang datang berkisar 940 orang tiap bulannya, sehingga kisaran penyelam yang datang ke Nusa Penida setiap tahunnya berjumlah 16.560 orang.

Marthen berharap pemerintah melakukan studi daya dukung lingkungan untuk mengetahui jumlah wisatawan yang boleh menyelam dalam satu hari, sehingga tidak berdampak pada lingkungan. Mengingat selama ini jumlah penyelam yang menyelam dalam satu site melebihi kapasitas.

Apalagi saat musim kemunculan mola mola dan pari manta. Resikonya adalah kerusakan terumbu karang, belum lagi akibat jumlah kapal dan penyelam yang terlalu banyak dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan.

Dampak lainnya, mola mola dan pari manta menjadi terganggu, bahkan stress dan akan pindah dari perairan Nusa Penida.

“Akibat lain, pencitraan buruk wisata bahari itu sendiri, wisatawan menjadi tidak nyaman karena terlalu ramai” ungkap Marthen.

Sementara, Gede Suka Yasa yang merupakan instruktur di Lembongan Dive Centre mengakui banyaknya pelanggaran yang dilakukan oleh operator menyelam selama ini karena tidak adanya penerapan aturan dan sanksi yang tegas. Sebagai contoh kawasan hutan mangrove yang merupakan zona bahari hanya diperbolehkan untuk kegiatan menyelam dan selam permukaan (snorkling).

Kenyataanya sekarang zona bahari di mangrove kegiatannya luar biasa banyak, karena ada kegiatan marine walk,banana boat, dan pontoon. Suka Yasa menyampaikan permasalahan lain yang juga dapat menghancurkan wisata bahari Nusa Penida adalah persaingan harga yang tidak sehat. Secara rata-rata harga yang ditawarkan selama ini antara Rp. 400.000 – Rp. 500.000 per-sekali menyelam.

Kenyataanya sekarang banyak yang membuat harga paket menjadi lebih murah. “Ada harga paket kena lebih murah dari itu.” Ucap Gede Suka Yasa.(Rendra Raditya)

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS