My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Cari Kerangka Sisa Perang Dunia II, Delegasi Jepang Kunjungi Papua

19 Januari
07:47 2012
Cari Kerangka Sisa Perang Dunia II, Delegasi Jepang Kunjungi Papua

Tentara Dai Nippon (ilustrasi)

Jayapura – Sebanyak enam anggota delegasi Pemerintah Jepang melakukan kunjungan ke Pemerintah Provinsi Papua, Kamis (19/1) pagi, untuk membahas kelanjutan pencarian tulang belulang eks tentara Jepang korban perang dunia II di wilayah Papua.

Asisten III Setda Provinsi Papua, Waryoto, di Jayapura menjelaskan, pengumpulan tulang belulang merupakan program Pemerintah Jepang untuk memulangkan warganya yang pada saat perang Dunia II tidak sempat pulang ke negara asalnya.

“Pada dasarnya Pemerintah Provinsi Papua mendukung rencana itu, tetapi Pemerintah Jepang juga harus memperhatikan aspirasi masyarakat setempat dengan baik. Diantaranya dengan membangun infrastruktur dan kuil untuk doa,” katanya.(Ant)

1 Komentar

  1. Indra Ganie
    Indra Ganie Februari 23, 12:19

    Saya mendapat kesan bahwa Jepang adalah (mantan) penjajahan yang terlupakan. Agaknya Jepang beruntung bahwa perioda penjajahannya terbilang singkat dan terjepit pula. Sejak awal penjajahan hadir di Nusantara pada 1511 – ketika Portugis mencaplok Malaka – hingga Kapitulasi Kalijati 1942 yang mengakhiri penjajahan Belanda, perioda ini adalah full perioda penjajahan Barat. Setelah Perang Dunia-2 berakhir pada 1945, Indonesia harus kembali berhadapan dengan imperialisme Barat – dengan istilah “Sekutu” – dan berakhir pada 1962, saat Irian Barat harus diserahkan Belanda. Dengan demikian ingatan bersama bangsa ini yang paling dalam adalah penjajahan Barat. Untuk waktu ke depan, tidak hanya perihal penjajahan Barat (termasuk segala kejahatannya) yang disimak lebih jauh, namun juga perihal pendudukan Jepang (1942-5). Walau “hanya” sekitar 3,5 tahun, pendudukan Jepang berdampak luar biasa. Dari segi jumlah warga yang tewas terdapat angka yang begitu fantastis – sekitar 4 juta, akibat kekejaman dan kelalaian pemerintah pendudukan. Saya menilai tulisan, penelitian, monumen atau apapun yang dapat mengingat perioda pendudukan Jepang masih relatif sedikit dibanding hal yang sama dengan penjajahan Barat. Juga harus diwaspadai bahwa Jepang belum berhenti bermimpi menjadi pemimpin Asia-Pasifik, dan mimpi tersebut mendapat restu diam-diam dari Amerika Serikat – mantan musuhnya pada Perang Dunia-2. AS butuh Jepang untuk membendung pengaruh Cina dan Korea Utara. Di dalam negeri Jepang sempat muncul suara-suara yang ingin mengubah konsep militer Jepang yang defensif menjadi ofensif, terlebih Jepang terlibat sengketa wilayah dengan Cina. Terkait dengan Indonesia, harus diwaspadai penjajahan Jepang jilid-2 antara lain melalui berbagai bantuan yang sebagian besar adalah berbentuk pinjaman – artinya HUTANG! Ini jelas membebani APBN kita yang seharusnya berguna untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Oh ya, ada lagi yang perlu diingat bahwa apa yang disebut “Indonesia Japan Economic Partnership Agreement” / IJEPA yang diteken pada 2007 dinilai sejumlah anak bangsa sebagai bentuk penjajahan Jepang jilid-2, antara lain IJEPA merupakan sebuah bentuk strategi keamanan energi Jepang, terutama untuk gas alam dan batubara. Pengiriman gas ke Jepang bukannya tanpa risiko, karena kedaulatan dan ketahanan energi (energy security) Indonesia akan terancam, karena gas bukanlah energi terbarukan. Krisis energi yang saat ini tengah mengemuka dalam politik global hendaknya menjadi pelajaran bagi Indonesia untuk melakukan pengamanan pasokan energi di dalam negeri, untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, pertanian dan industri dalam negeri secara berkelanjutan. Dengan demikian, JEPANG BELUM BERHENTI MELANJUTKAN PENJAJAHAN DI INDONESIA! Jangan sampai rakyat Indonesia hanya mengenal dan terpukau dengan Jepang sebagai penghasil barang murah, film kartun dan games!

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS