My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Cantrang Dilarang Melaut, HNSI Minta Pemkab Pati Perhatikan Nelayan

 Breaking News
24 Mei
20:26 2015
Cantrang Dilarang Melaut, HNSI Minta Pemkab Pati Perhatikan Nelayan

Pati – Nelayan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, yang tidak bisa melaut menyusul adanya larangan alat tangkap cantrang berharap mendapatkan perhatian dari pemerintah kabupaten setempat, kata Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Juwana Rasmijan.

“Selama proses menunggu kejelasan aturan dari Pemerintah Pusat, para nelayan yang tidak bisa melaut memang berharap masih bisa mendapatkan pemasukan untuk mencukupi kebutuhan keluarga,” ujarnya di Pati, Minggu.

Padahal, kata dia, hingga kini cukup banyak kapal nelayan cantrang di Kabupaten Pati tidak bisa melaut karena tidak bisa memperpanjang SIPI.

Hanya saja, kata dia, hingga sekarang belum mendengar adanya perhatian dari pemerintah setempat.

Akibatnya, lanjut dia, para nelayan yang tidak bisa melaut harus berjuang sendiri mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

“Tentunya pemerintah juga perlu mempertimbangkan dampak yang dihadapi para nelayan jika selama berbulan-bulan tidak bisa melaut,” ujarnya.

Harapan nelayan bisa melaut, kata dia, juga ditempuh lewat berbagai cara, dari unjuk rasa, menemui wakil rakyat, menteri hingga presiden.

“Akan tetapi, hingga kini belum juga ada solusi atas permasalahan yang terjadi,” ujarnya.

Nelayan Juwana serta nelayan dari daerah lain, kata dia, juga berupaya mengadu ke Gubernur Jateng Ganjar Pranowo untuk membantu perpanjangan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI).

Hanya saja, lanjut dia, baru dijadwalkan dan belum bisa bertemu langsung.

Seharusnya, kata dia, selama masa transisi pemberlakuan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 2/2015 tentang Larangan Penggunaan Alat Tangkap Ikan Pukat Hela dan Pukat Tarik nelayan diberi toleransi untuk tetap mengurus perpanjangan SIPI tersebut.

Apalagi, kata dia, pemberlakuan aturan tersebut ditunda hingga September 2015.

“Jika ada toleransi, diharapkan pinjaman di lembaga perbankan bisa dilunasi. Kalaupun tidak lunas seluruhnya, minimal sebagian besar tanggungan nelayan terbayarkan, sehingga ketika hendak meminjam kembali untuk membeli alat tangkap ikan yang baru lebih mudah,” ujarnya.

Untuk membeli alat tangkap ikan yang baru, kata dia, dibutuhkan investasi yang cukup besar, sedangkan untuk mendapatkan pinjaman lagi tentunya harus lunas terlebih dahulu.(Ant)

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *